Kisah Bijak Para Sufi: Cara Membuat Api

Kamis, 21 November 2024 - 16:44 WIB
Para musafir itu melanjutkan perjalanan ke negeri suku yang memuja alat-alat pembuatan api. Lagi, seorang murid mengajukan diri untuk meluruskan jalan pikir suku itu.

Seizin gurunya,ia berkata, "Saya minta izin berbicara pada pada kalian sebagai orang yang berakal. Kalian memuja alat-alat yang bisa digunakan untuk menciptakan sesuatu, bahkan bukan ciptaan itu sendiri. Dengan demikian, kalian mengabaikan kegunaannya. Saya tahu bahwa tipuan kalian gunakan untuk mendasari upacara ini."

Orang-orang suku ini lebih berakal sehat. Namun, mereka menjawab murid itu, "Saudara disambut baik sebagai musafir dan tamu di tengah-tengah kami. Tetapi, sebagai pendatang, yang buta terhadap sejarah dan adat kami, saudara tak paham apa yang kami lakukan. Saudara berbuat kesalahan. Barangkali, saudara bahkan bermaksud menyingkirkan atau mengganti agama kami. Karena itu, kami tidak sudi mendengarkan ocehan saudara."

Para musafir itu melanjutkan perjalanan.

Ketika tiba di tanah suku ketiga, mereka melihat di depan tiap rumah penduduk berdiri gagah patung yang menyerupai Nur, penemu api itu.Murid yang ketiga berkatakepada kepala suku tersebut:

"Patung ini melambangkan manusia, yang melambangkan kemampuan, yang bisa dipergunakan."

"Mungkin begitu," kata para pemuja Nur, "tetapi hanya sedikit orang yang bisa mengetahui sesuatu di balik rahasia sejati."

Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga

"Hanya bagi yang yang mau mengerti, bukan bagi mereka yang menutup mata terhadap kenyataan sebenarnya," timpal murid ketiga.

"Ini bid'ah, dan berasal dari seorang yang bahkan tak bisa berkomunikasi dalam bahasa kami dengan benar, dan bukan pendeta yang ditahbiskan menurut keimanan kami," geram para pendeta itu. Murid itu pun menemui jalan buntu.

Rombongan itu meneruskan perjalanan, dan sampai di negeri suku yang keempat. Kini,murid yang keempatmelangkah ke tengah orang banyak.

"Legenda tentang api itu benar adanya, dan saya tahu bagaimana dibuat."

Kekacauan muncul di antara suku itu, yang terbelah menjadi beberapa kelompok. Ada yang berkata, "Yang Saudara katakan mungkin benar, dan jika demikian halnya, kami ingin mengetahui bagaimana cara membuat api." Ketika orang-orang ini diuji oleh Sang Guru dan muridnya, ternyata kebanyakan dari mereka tertarik membuat api hanya untuk kepentingan pribadi raja, dan tidak menyadari betapa akan bermanfaatnya api untuk kemajuan manusia. Begitu dalamnya legenda yang menyimpang itu merasuki pikiran orang-orang itu sehingga mereka yang mengira dirinya memperjuangkan kebenaran sering kali justru merupakan orang-orang tidak waras, yang tidak bisa membuat api bahkan setelah ditunjukkan caranya.

Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!