Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz Mengangkat Iyas bin Mu’awiyah sebagai Hakim
Kamis, 19 Desember 2024 - 05:15 WIB
Maka dia segera menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, janganlah Anda menanyakan perihalku kepada siapapun. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia. Iyas lebih mengerti tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada aku dan lebih mampu untuk menjadi hakim. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka tentunya Anda tidak patut memilihku karena itu berarti memberikan jabatan kepada orang yang ada cacatnya. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”
Baca juga: Kisah Ulama Tabi'in Bermimpi Melihat Keadaan Penghuni Kubur
Iyas menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda meletakkan ia di tepi jahannam, lalu orang itu (yakni al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, dia bisa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beristighfar kepada-Nya. Kemudian selamatlah dia dari apa yang ditakutinya.”
Maka Adi berkata, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang pantas menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai Hakim di Bashrah.
Berbakat Sejak Kecil
Siapakah gerangan yang dipilih oleh khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi hakim di Bashrah ini?
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam Mereka adalah Para Tabiin, mengungkap Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya.
Di sanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar. Beliau sering mondar-mandir ke Damaskus saat masih belia, tentunya untuk menimba ilmu dari sisa-sisa sahabat yang mulia dan tokoh-tokoh tabi’in yang agung.
Sejak kecil telah tampak bakat dan kecerdasan Putra al-Muzanni yang satu ini. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Diriwayatkan bahwa, ketika masih kecil beliau belajar ilmu hisab di sebuah sekolah yang diajar oleh seorang Yahudi ahli Dzimmah (orang non-muslim merdeka yang hidup dalam negara Islam). Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, lalu mereka asyik membicarakan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.
Baca juga: Kisah Atha' bin Abi Rabah: Tabi'in Tempat Khalifah Sulaiman Meminta Fatwa
Baca juga: Kisah Ulama Tabi'in Bermimpi Melihat Keadaan Penghuni Kubur
Iyas menoleh kepada Adi dan berkata, “Wahai Amir, Anda memanggil orang untuk dijadikan hakim. Ibaratnya Anda meletakkan ia di tepi jahannam, lalu orang itu (yakni al-Qasim) hendak menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsu, dia bisa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beristighfar kepada-Nya. Kemudian selamatlah dia dari apa yang ditakutinya.”
Maka Adi berkata, “Orang yang berpandangan seperti dirimu inilah yang pantas menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai Hakim di Bashrah.
Berbakat Sejak Kecil
Siapakah gerangan yang dipilih oleh khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi hakim di Bashrah ini?
Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya dalam Mereka adalah Para Tabiin, mengungkap Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya.
Di sanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar. Beliau sering mondar-mandir ke Damaskus saat masih belia, tentunya untuk menimba ilmu dari sisa-sisa sahabat yang mulia dan tokoh-tokoh tabi’in yang agung.
Sejak kecil telah tampak bakat dan kecerdasan Putra al-Muzanni yang satu ini. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.
Diriwayatkan bahwa, ketika masih kecil beliau belajar ilmu hisab di sebuah sekolah yang diajar oleh seorang Yahudi ahli Dzimmah (orang non-muslim merdeka yang hidup dalam negara Islam). Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, lalu mereka asyik membicarakan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.
Baca juga: Kisah Atha' bin Abi Rabah: Tabi'in Tempat Khalifah Sulaiman Meminta Fatwa
Lihat Juga :