Apakah Muhammadiyah Boleh Tahlilan? Simak Penjelasannya

Jum'at, 20 Desember 2024 - 10:31 WIB
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِى السِّلۡمِ کَآفَّةً ۖ وَلَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّيۡطٰنِ‌ؕ اِنَّهٗ لَـکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Lebih jauh, perkara tahlilan orang yang meninggal dunia sebenarnya dianggap sebagai masalah khilafiyah (terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama). Di kalangan para pendukung gerakan Islam pembaharu (tajdid) seperti Muhammadiyah, mereka sepakat memandang tahlilan orang yang meninggal dunia sebagai bid’ah yang harus ditinggalkan karena tidak ada tuntunannya dari Rasulullah.

Sementara dari golongan gerakan Islam tradisional maupun gerakan tarekat, mereka cenderung membolehkan. Bahkan, menganjurkan tahlilan bagi orang yang meninggal dunia.

Jadi, terjawab sudah pertanyaan “Apakah Muhammadiyah boleh tahlilan?”. Berbeda dengan kalangan seperti NU, mereka tidak melakukan tahlilan untuk orang yang sudah meninggal karena dirasa tidak ada tuntunannya dari Rasulullah.

Baca juga: Muhammadiyah Meniru Kaum Nasrani? Begini Konsep Welas Asih Kiai Ahmad Dahlan

Wallahu a’lam
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!