Abdul Mu’ti: Konvergensi Keislaman Menjadi Kekuatan Indonesia
Senin, 10 Maret 2025 - 11:21 WIB
Mengapa demikian, Abdul Mu’ti menjelaskanya dengan mengutip Prof Kuntowijoyo dalam buku Muslim Tanpa Masjid, buku terbitan 1994 yang menjelaskan meski banyak generasi muslim berasal dari latar belakang yang berbeda-beda tetapi kemudian memiliki sisi keislaman yang hampir sama.
Baca juga: Abdul Mu'ti: Puasa Erat Kaitannya dengan Tujuan Didirikannya Negara dan Pendidikan Nasional
Menurut Prof Kunto yang disampaikan Abdul Mu’ti, ada tiga konvergensi yang terjadi. Pertama konvergensi antara kelompok tradisional dan kelompok modernis, tidak ada lagi perbedaan yang sangat tajam antara NU dan Muhammadiyah. Kedua konvergensi antara kelompok santri dan abangan, yang juga sudah nyaris tidak terjadi. Ketiga konvergensi politik, hampir tidak ada perbedaan antara partai Islam dengan partai yang tidak Islam atau partai nasionalis. Abdul Mu’ti mencontohkan PDI Perjuangan yang dulu identik dengan kelompok yang cederung pada abangan sekarang ini banyak santri yang berada di PDI Perjuangan. Juga banyak santri ada di partai Golkar yang identik dengan abangan.
Masih mengutip buku yang sama, konvergensi terjadi, pertama, sejak Presiden Suharto mewajibkan pendidikan agama sebagai pelajaran wajib di semua jenjang dan jenis pendidikan, yang sebelumnya pendidikan agama hanya pilihan. Sehingga di situ anak anak dari keluarga abangan, keluarga santri, keluarga priyayi belajar agama dari guru yang sama dan juga dari buku pelajaran agama yang sama.
Kedua, karena peran IAIN, tempat sebagaian besar kalangan santri kuliah di IAIN, yang mereka belajar dari dosen yang sama, literatur yang sama. Menurut Abdul Mu’ti yang juga Guru Besar IAIN, sekarang UIN, perbedaan Muhammadiyah dan NU sudah hampir tidak terlihat. “Perbedaannya mungkin afiliasi organisasi saja, pandangan keagamaan sudah hampir sama” jelasnya.
Faktor ketiga, menurut pendapat Abdul Mu’ti, banyak anak-anak NU yang belajar di kampus dan sekolah Muhammadiyah, 70 persen mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta itu dari NU, begitu juga di Universitas Muhammadiyah Malang. “Ketika mereka belajar di Muhammadiyah ada kemungkinan, dia masuk Muhammadiyah, kemungkinan lain NU nya makin kuat, yang banyak terjadi makin kuat” urainya sambil tertawa.
Abdul Mu’ti terinspirasi untuk kembangkan pesantren. Ia ceritakan Buyutnya dulu punya pesantren. Banyak santrinya dari Tebu Ireng, Demak dan daerah lain. Sekarang pesantren dilanjutkan oleh sepupunya yang NU, tetapi alumni Tsanawiyah dan Aliyah Muhammadiyah dan menjadi Ketua PCNU. “Inilah hebatnya Islam di Indonesia dimana Muhammadiyah dan NU tidak menjadi dua organisasi yang salin berseteru, tapi seperti dua sayap burung Garuda. Burung Garuda bisa terbang tinggi karena dua sayap itu mengepak, dua sayap itu Muhammadiyah dan NU.
Baca juga: Abdul Mu'ti Bicara Makna Sejati Pendidikan Anak Usia Dini
Baca juga: Abdul Mu'ti: Puasa Erat Kaitannya dengan Tujuan Didirikannya Negara dan Pendidikan Nasional
Menurut Prof Kunto yang disampaikan Abdul Mu’ti, ada tiga konvergensi yang terjadi. Pertama konvergensi antara kelompok tradisional dan kelompok modernis, tidak ada lagi perbedaan yang sangat tajam antara NU dan Muhammadiyah. Kedua konvergensi antara kelompok santri dan abangan, yang juga sudah nyaris tidak terjadi. Ketiga konvergensi politik, hampir tidak ada perbedaan antara partai Islam dengan partai yang tidak Islam atau partai nasionalis. Abdul Mu’ti mencontohkan PDI Perjuangan yang dulu identik dengan kelompok yang cederung pada abangan sekarang ini banyak santri yang berada di PDI Perjuangan. Juga banyak santri ada di partai Golkar yang identik dengan abangan.
Masih mengutip buku yang sama, konvergensi terjadi, pertama, sejak Presiden Suharto mewajibkan pendidikan agama sebagai pelajaran wajib di semua jenjang dan jenis pendidikan, yang sebelumnya pendidikan agama hanya pilihan. Sehingga di situ anak anak dari keluarga abangan, keluarga santri, keluarga priyayi belajar agama dari guru yang sama dan juga dari buku pelajaran agama yang sama.
Kedua, karena peran IAIN, tempat sebagaian besar kalangan santri kuliah di IAIN, yang mereka belajar dari dosen yang sama, literatur yang sama. Menurut Abdul Mu’ti yang juga Guru Besar IAIN, sekarang UIN, perbedaan Muhammadiyah dan NU sudah hampir tidak terlihat. “Perbedaannya mungkin afiliasi organisasi saja, pandangan keagamaan sudah hampir sama” jelasnya.
Faktor ketiga, menurut pendapat Abdul Mu’ti, banyak anak-anak NU yang belajar di kampus dan sekolah Muhammadiyah, 70 persen mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta itu dari NU, begitu juga di Universitas Muhammadiyah Malang. “Ketika mereka belajar di Muhammadiyah ada kemungkinan, dia masuk Muhammadiyah, kemungkinan lain NU nya makin kuat, yang banyak terjadi makin kuat” urainya sambil tertawa.
Iri pada Gus Cholil
Menutup tausiyahnya, Abdul Mu’ti, yang juga Sekfretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan irinya kepada Cholil Nafis. Diceritakan dalam perjalanan menuju Cendekia Amanah Abdul Mu’ti melihat YouTube MUITV program Sang Kiai Gus Cholil. Baru tahu ternyata Gus Cholil ini anak saudagar Madura, kemudian menjadi ulama. Abdul Mu’ti pun menyampaikan orang boleh iri kepada dua orang, satu kepada orang kaya yang berderma dengan kekayaannya, kedua kepada orang alim yang mengamalkan ilmunya. “Karena itu saya ke sini iri kepada Kiai Cholil, karena beliau memiliki dua-duanya. Beliau ini orang kaya yang banyak bersedekah, dan orang alim yang banyak mengamalkan ilmunya”.Abdul Mu’ti terinspirasi untuk kembangkan pesantren. Ia ceritakan Buyutnya dulu punya pesantren. Banyak santrinya dari Tebu Ireng, Demak dan daerah lain. Sekarang pesantren dilanjutkan oleh sepupunya yang NU, tetapi alumni Tsanawiyah dan Aliyah Muhammadiyah dan menjadi Ketua PCNU. “Inilah hebatnya Islam di Indonesia dimana Muhammadiyah dan NU tidak menjadi dua organisasi yang salin berseteru, tapi seperti dua sayap burung Garuda. Burung Garuda bisa terbang tinggi karena dua sayap itu mengepak, dua sayap itu Muhammadiyah dan NU.
Baca juga: Abdul Mu'ti Bicara Makna Sejati Pendidikan Anak Usia Dini
(wid)
Lihat Juga :