Belajar Agama Lewat Media Sosial, Ini Etika yang Harus Diperhatikan Muslim
Rabu, 08 Juli 2026 - 13:16 WIB
Artinya: "Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36).
Ayat tersebut mengandung pesan agar setiap muslim berhati-hati dalam menerima informasi, termasuk ilmu agama yang diperoleh melalui media sosial maupun internet. Sebab, semua yang dipelajari dan diamalkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Dalam kitab Ta'lîm al-Muta'allim, Imam Az-Zarnuji mengutip syair yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang enam syarat memperoleh ilmu:
Syair tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara sempurna kecuali dengan enam syarat, yaitu kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, kesiapan berkorban, bimbingan guru, dan waktu belajar yang panjang.
Dari enam syarat tersebut, terdapat satu poin yang sangat penting, yakni irsyadu ustadz atau bimbingan seorang guru. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar dalam Islam bukan sekadar membaca atau mendengar materi, melainkan juga mendapatkan arahan, koreksi, dan teladan dari seorang pendidik.
Artinya: "Janganlah kalian belajar Al-Qur'an kepada orang yang belajar Al-Qur'an secara otodidak dan janganlah mengambil ilmu agama dari orang-orang yang tidak memiliki guru."
Ayat tersebut mengandung pesan agar setiap muslim berhati-hati dalam menerima informasi, termasuk ilmu agama yang diperoleh melalui media sosial maupun internet. Sebab, semua yang dipelajari dan diamalkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Pentingnya Guru dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam khazanah Islam, keberadaan guru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses menuntut ilmu. Sanad keilmuan menjadi salah satu ciri utama yang menjaga kemurnian ajaran Islam dari generasi ke generasi.Dalam kitab Ta'lîm al-Muta'allim, Imam Az-Zarnuji mengutip syair yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang enam syarat memperoleh ilmu:
اَلا لاَ تَناَلُ اْلعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ ... ذُكاَءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِباَرٍ وَبُلْغَةٍ وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
Syair tersebut menjelaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh ilmu secara sempurna kecuali dengan enam syarat, yaitu kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, kesiapan berkorban, bimbingan guru, dan waktu belajar yang panjang.
Dari enam syarat tersebut, terdapat satu poin yang sangat penting, yakni irsyadu ustadz atau bimbingan seorang guru. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar dalam Islam bukan sekadar membaca atau mendengar materi, melainkan juga mendapatkan arahan, koreksi, dan teladan dari seorang pendidik.
Jangan Belajar Agama Secara Otodidak
Para ulama salaf juga telah mengingatkan bahaya belajar agama tanpa guru. Mereka berkata:لَا تَقْرَؤُوا الْقُرْآنَ عَلَى الْمُصْحَفِيِّينَ وَلَا تَأْخُذُوا الْعِلْمَ مِنَ الصُّحُفِيِّينَ
Artinya: "Janganlah kalian belajar Al-Qur'an kepada orang yang belajar Al-Qur'an secara otodidak dan janganlah mengambil ilmu agama dari orang-orang yang tidak memiliki guru."
Lihat Juga :