Kisah Perempuan Jujur di Zaman Imam Ahmad Bin Hanbal
Kamis, 08 Oktober 2020 - 15:08 WIB
Imam Ahmad bin Hanbal terperangah mendengar sifat wara wanita tua. Sang Imam penasaran ingin mengetahui siapakah gerangan wanita tua itu. "Siapakah Anda sebenarnya, wahai ibu?"
Si wanita miskin itu menjawab lirih, "Saya saudara perempuan Bisr bin Hafi!" Makin terkejutlah Imam Ahmad bin Hanbal mendengar pengakuan wanita itu. (Baca Juga: Kisah Sang Raja dan Pemuda yang Jujur )
Siapa Bisr Bin Hafi?
Bisr bin Hafi adalah seorang Gubernur yang sangat shaleh, adil dan bijaksana. Ia tak memperkenankan kerabat dan keluarganya, anak-anaknya menikmati serta memanfaatkan fasilitas kekuasaan negara.
Bisr bin Hafi, seorang Gubernur yang shaleh yang tak pernah memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi, bahkan adik beliau salah satu orang termiskin pada masa kekuasaannya.
Subhanallah. Begitulah orang-orang dahulu menjaga amanah serta berhati-hati menjaga diri agar tak tersentuh dalam hal-hal yang syubhat sekalipun, apalagi dari hal yang diharamkan.
Bayangkan hari ini? Ada orang yang ingin menjadi pegawai malah dengan cara-cara sogokan dan manipulasi. Ingin berkuasa dengan cara menghalalkan segala cara.
Bila ada pejabat yang berkuasa, anak cucunya pasti diangkat jadi wali kota. Kekuasaan negara dianggapnya kekuasaan keluarga, karena bapaknya, kakeknya dulu pernah jadi pahlawan memerdekakan bangsa katanya, tak peduli rakyat menderita dan sengsara dari ambisi syahwat politiknya.
Semoga kisah ini menjadi iktibar bagi kita semua. Kita berdoa semoga Allah memberi taufiknya agar kita termasuk golongan orang-orang yang amanah. Aamiin! (Baca Juga: Hati-hati! Ini Doa Rasulullah untuk Para Pejabat yang Menyusahkan Umatnya )
Wallahu A'lam
Si wanita miskin itu menjawab lirih, "Saya saudara perempuan Bisr bin Hafi!" Makin terkejutlah Imam Ahmad bin Hanbal mendengar pengakuan wanita itu. (Baca Juga: Kisah Sang Raja dan Pemuda yang Jujur )
Siapa Bisr Bin Hafi?
Bisr bin Hafi adalah seorang Gubernur yang sangat shaleh, adil dan bijaksana. Ia tak memperkenankan kerabat dan keluarganya, anak-anaknya menikmati serta memanfaatkan fasilitas kekuasaan negara.
Bisr bin Hafi, seorang Gubernur yang shaleh yang tak pernah memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi, bahkan adik beliau salah satu orang termiskin pada masa kekuasaannya.
Subhanallah. Begitulah orang-orang dahulu menjaga amanah serta berhati-hati menjaga diri agar tak tersentuh dalam hal-hal yang syubhat sekalipun, apalagi dari hal yang diharamkan.
Bayangkan hari ini? Ada orang yang ingin menjadi pegawai malah dengan cara-cara sogokan dan manipulasi. Ingin berkuasa dengan cara menghalalkan segala cara.
Bila ada pejabat yang berkuasa, anak cucunya pasti diangkat jadi wali kota. Kekuasaan negara dianggapnya kekuasaan keluarga, karena bapaknya, kakeknya dulu pernah jadi pahlawan memerdekakan bangsa katanya, tak peduli rakyat menderita dan sengsara dari ambisi syahwat politiknya.
Semoga kisah ini menjadi iktibar bagi kita semua. Kita berdoa semoga Allah memberi taufiknya agar kita termasuk golongan orang-orang yang amanah. Aamiin! (Baca Juga: Hati-hati! Ini Doa Rasulullah untuk Para Pejabat yang Menyusahkan Umatnya )
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :