Apa yang Didapat Ketika Menutupi Aib Orang Lain?
Rabu, 04 November 2020 - 13:06 WIB
5. Pahala meninggalkan ghibah demi mengharap ridha Allah.
Membicarakan aib orang lain adalah pekerjaan orang-orang lemah. Orang akan dipuja jika tidak melakukan hal itu. Dan orang yang sering membicarakan sesuatu yang tidak penting baginya, akan dibicarakan orang lain juga. Na’udzu billah…
(Baca juga : Tetap Waspada COVID-19, Kemenkes: Kemungkinan Berlangsung dalam Waktu Lama )
6. Mendapatkan cinta Allah, sebab Allah menyukai ketertutupan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- حَلِيْمٌ حَيِيٌ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ
Sesungguhnya Allah azza wa jalla Maha Bijaksana, Maha Pencipta dan Maha Menutupi. Dia menyukai rasa malu dan ketertutupan (HR. an-Nasai)
Jika kita melakukan apa yang dicintai oleh Allah, maka Allah akan mencintai kita.
7. Jika saat kita menutupi (aib) muslim lainnya, laki-laki dan perempuan, berarti kita sedang menjaga umat Islam dari jurang kehinaan.
Karena berita-berita (hina) yang tersebar adalah jalan menuju kehinaan. Dan orang-orang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
(Baca juga : Tarif Listrik Akan Naik, Berlaku Mulai Triwulan Pertama 2021 )
Tetapi, menutupi aib bukan berarti kita tidak mau mencegah dan memberikan nasehat kepada orang yang membutuhkan. Kita dapat memberikan nasehat kepada mereka, dengan syarat tidak membeberkan aib mereka secara terang-terangan. Kecuali, jika sikap menutupi yang kita lakukan membuat mereka semakin menjadi-jadi dan semakin berani melakukan kejahatan.
Jika begitu, wajib bagi kita untuk mengangkat permasalahan mereka kepada orang yang berkompenten memperbaiki dan menyelesaikan persoalan mereka. Apa yang kita lakukan ini akan mendapatkan pahala, jika kita berniat untuk menolong muslim atau muslimah selamat dari azab Allah Ta'ala.
Wallahu A'lam
Membicarakan aib orang lain adalah pekerjaan orang-orang lemah. Orang akan dipuja jika tidak melakukan hal itu. Dan orang yang sering membicarakan sesuatu yang tidak penting baginya, akan dibicarakan orang lain juga. Na’udzu billah…
(Baca juga : Tetap Waspada COVID-19, Kemenkes: Kemungkinan Berlangsung dalam Waktu Lama )
6. Mendapatkan cinta Allah, sebab Allah menyukai ketertutupan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- حَلِيْمٌ حَيِيٌ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ
Sesungguhnya Allah azza wa jalla Maha Bijaksana, Maha Pencipta dan Maha Menutupi. Dia menyukai rasa malu dan ketertutupan (HR. an-Nasai)
Jika kita melakukan apa yang dicintai oleh Allah, maka Allah akan mencintai kita.
7. Jika saat kita menutupi (aib) muslim lainnya, laki-laki dan perempuan, berarti kita sedang menjaga umat Islam dari jurang kehinaan.
Karena berita-berita (hina) yang tersebar adalah jalan menuju kehinaan. Dan orang-orang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
(Baca juga : Tarif Listrik Akan Naik, Berlaku Mulai Triwulan Pertama 2021 )
Tetapi, menutupi aib bukan berarti kita tidak mau mencegah dan memberikan nasehat kepada orang yang membutuhkan. Kita dapat memberikan nasehat kepada mereka, dengan syarat tidak membeberkan aib mereka secara terang-terangan. Kecuali, jika sikap menutupi yang kita lakukan membuat mereka semakin menjadi-jadi dan semakin berani melakukan kejahatan.
Jika begitu, wajib bagi kita untuk mengangkat permasalahan mereka kepada orang yang berkompenten memperbaiki dan menyelesaikan persoalan mereka. Apa yang kita lakukan ini akan mendapatkan pahala, jika kita berniat untuk menolong muslim atau muslimah selamat dari azab Allah Ta'ala.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :