Kepala Tarekat Naqsyabandiyah Menyebut Dirinya Anjing

Minggu, 08 November 2020 - 07:00 WIB
Bahauddin Naqsabandi/Foto/Ilustrasi/ist/mhy
MAULANA Darwis , kepala Tarekat Naqsyabandiyah dan salah seorang guru besarnya, suatu hari duduk di Zawiah-nya ketika seorang pendeta yang marah, menyerobot masuk.

"Kau duduk di sana," teriaknya, "Anjing kau ini, dikelilingi murid, ditaati mereka dalam setiap keterangan! Aku di lain pihak, memanggil orang untuk mengusahakan pengampunan-Nya, melalui doa dan kecermatan, sebagaimana diperintahkan kepada kami."

Pada kata "anjing", beberapa Pencari bangkit untuk mengusir pendeta tersebut. ( )

"Tenanglah," ujar Maulana, "karena 'anjing' sebenarnya kata-kata yang baik. Aku anjing, yang taat pada majikannya, menuntun domba dengan isyarat, penjelasan tentang keinginan Majikan kita. Seperti seekor anjing, aku, marah pada penyelundup dan pencuri. Dan aku mengibaskan ekorku dengan senang ketika teman Majikanku mendekat."

"Menggonggong, mengibas dan mencintai adalah sikap seekor anjing, kita melatih mereka; karena Majikan memiliki kita, dan tidak menggonggong serta mengibas dengan sendirinya." ( )



MENGHARGAI PEMIKIRAN

Sadik Hamzawi ditanya: "Bagaimana engkau dapat berhasil, atas keinginannya, guru dari Samarkand, kalau engkau dahulu cuma seorang pelayan di rumah ini?"

Katanya, "Ia mengajariku apa yang ingin ia ajarkan, dan aku mempelajarinya. Ia pernah berkata, 'Aku tidak dapat mengajar yang lainnya, murid-murid, pada tingkat yang sama, karena mereka ingin bertanya, mereka menuntut pertemuan, mereka menentukan kerangka kerja, oleh karena itu mereka mengajari diri sendiri, apa yang sudah mereka ketahui.'

Aku bertanya padanya, 'Ajari aku apa yang engkau bisa, dan katakan padaku bagaimana mempelajarinya,' begitulah, bagaimana aku menjadi penerusnya. Orang-orang menghargai suatu pemikiran bagaimana mengajar serta belajar ditempatkan. Mereka tidak dapat memiliki gagasan sekaligus pelajaran." ( )
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
(mhy)
cover top ayah
لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ‌ۙ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَىِّ‌ۚ فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَيُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا‌‌ ؕ وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ
Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam, sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

(QS. Al-Baqarah Ayat 256)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More