Nabi Muhammad Asuh Sayidina Ali Gara-gara Krisis Ekonomi Melanda Makkah
Senin, 09 November 2020 - 08:00 WIB
Bagi Nabi Muhammad SAW, Sayidina Ali bukan hanya sekadar saudara misan, malahan dalam pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal.(Baca juga: 5 Karomah Sayyidina Ali bin Abi Thalib )
Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan Abu Thalib kepada beliau. Bahkan, menurut, Al-Hamid, pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad SAW sering mengajak Ali menyepi di Gua Hira , yang terletak dekat kota Makkah.
Ada kalanya Ali diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan Allah Ta'ala.
Sejak usia muda Ali sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa.
Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasulullah SAW dalam kehidupannya.
Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Ali dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam kehidupan Ali adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah Ta'ala.
Sayidina Ali mendapat kesempatan yang paling baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad sedang dipersiapkan Allah SWT. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.
Ali menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah ketika itu.
Ali menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata kepala sendiri Ali menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan pikiran Nabi Muhammad.
Masa Kanak-kanak
Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan Abu Thalib kepada beliau. Bahkan, menurut, Al-Hamid, pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad SAW sering mengajak Ali menyepi di Gua Hira , yang terletak dekat kota Makkah.
Ada kalanya Ali diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan dan kebesaran ciptaan Allah Ta'ala.
Sejak usia muda Ali sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa.
Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasulullah SAW dalam kehidupannya.
Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Ali dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam kehidupan Ali adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah Ta'ala.
Sayidina Ali mendapat kesempatan yang paling baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad sedang dipersiapkan Allah SWT. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.
Ali menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah ketika itu.
Ali menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata kepala sendiri Ali menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan pikiran Nabi Muhammad.
Masa Kanak-kanak
Lihat Juga :