Doa yang Tak Layak, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani

Sabtu, 28 November 2020 - 05:00 WIB
Pertama, tak meminta, ridha dan pasrah kepada kehendak-Nya, seperti jasat mati di hadapan orang yang memandikannya, atau seperti bayi di tangan perawat, atau seperti bola polo di depan pemain polo, yang menggulirkannya dengan tongkat polonya. Dan Allah berbuat sekehendakNya. Bila hal itu adalah rahmat, rasa syukur dan puja-puji meluncur darimu, dan limpahan rahmat datang dari-Nya, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya jika kau bersyukur, tentu akan Kuberikan kepadamu lebih banyak lagi” (QS 14:7)

Tapi, jika hal itu adalah musibah, maka kesabaran dan kepatuhan meluncur darimu dengan pertolongan kekuatan yang dianugerahkan oleh-Nya, keteguhan hati, pertolongan rahmat dan kasih-sayang dari-Nya, sebagaimana firman-Nya, Yang Mahakuasa lagi Mahaagung:

Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.” (QS 2:153)

Jika kau menolong Allah, maka Ia akan menolongmu dan meneguhkan pijakanmu.” (QS 47:7)

Bila kau telah membantu (jalan) Allah, dengan menentang hawa nafsumu, tak menyalahkanNya, menghindari ketaksenangan dirimu terhadap kehendak-Nya, menjadi musuh diri demi Allah, siap menyerangnya dengan pedang bila ia bergerak dengan kekafiran dan kesyirikannya, menebas kepalanya dengan kesabaran dan keselarasanmu dengan Tuhanmu, dengan keridhaan terhadap kehendak dan janji-Nya, – jika kau berlaku demikian, maka Allah akan menjadi penolongmu. Mengenai rahmat dan kasih-sayang Ia berfirman: “Berilah kabar baik kepada orang-orang yang sabar, mereka, yang bila ditimpa musibah, berkata:

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka adalah yang dikaruniai rahmat dan kasih-sayang Tuhan mereka, dan mereka adalah pengikut-pengikut jalan kebenaran.” (QS 2:156-157). Atau

Kedua, memohon kepada Allah dengan kerendahdirian, dengan mengagungkan-Nya, dan patuh kepada perintah-perintah-Nya. Ya, berdoalah kepada Allah, hal itu adalah layak, sebab Ia sendirilah yang memerintahkanmu untuk memohon kepada-Nya, berpaling kepada-Nya, telah membuat hal itu sebagai sarana kesenanganmu, semacam utusan darimu kepada-Nya, sarana penghubung dengan-Nya,dan sarana pendekatan kepada-Nya, asalkan, tentu saja, kau tak menyalahkan-Nya, marah kepada-Nya, karena ditangguhkan-Nya penerimaan doamu.

Nah, lanjut Syaikh Abdul Qadir, perhatikanlah perbedaan antara dua keadaan ini. Jangan berada di luar keduanya, sebab tiada keadaan selain keduanya. Berhati-hatilah agar kau tak berbuat aniaya, yang melanggar batas. Sehingga Ia akan membinasakanmu dan Ia takkan memperhatikanmu, sebagaimana dibinasakan-Nya orang-orang yang telah berlalu di dunia ini, dengan menambah bencanabencana-Nya, dan di akhirat, denagn siksa yang amat pedih. Mahabesar Allah! Wahai yang tahu keadaanku! Kapada-Mulah aku beriman. (Baca juga: Ini Mengapa Kemiskinan Mendekatkan kepada Kekafiran Menurut Syaikh Abdul Qadir )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!