Cerita Ajaran: Tiga Orang Tuli dan Darwis Bisu
Rabu, 09 Desember 2020 - 08:01 WIB
Si pengembala dan pemotong rumput mulai berteriak pada musafir tersebut, yang kemudian turun dari kudanya dan menghampiri mereka. Sang musafir yang ternyata adalah pencuri kuda dan sama tulinya, ia pun tidak mendengar apa yang mereka berdua katakan. Ia tersesat dan bermaksud bertanya di mana dirinya berada saat itu. Tetapi ketika melihat sikap mengancam dari kedua orang tersebut, ia berkata, "Benar saudara, aku telah mencuri kuda. Aku mengakui, tetapi aku tidak tahu kalau itu milik kalian. Maafkan aku, karena aku cepat tergoda dan telah bertindak tanpa berpikir!"
"Aku tidak tahu apa-apa terhadap pincangnya domba ini!" teriak pemotong rumput.
"Suruh ia mengatakan kepadaku, mengapa menolak pemberianku," desak si pengembala, "aku hanya ingin memberikannya sebagai penghargaan!"
"Aku mengaku mengambil kuda," ujar pencuri "tetapi aku tuli, dan aku tidak tahu siapa diantara kalian pemilik kuda ini."
Pada saat itu, dari kejauhan, tampak seorang darwis tua, berjalan sepanjang jalan berdebu ke arah menuju desa. Si pemotong rumput lari menghampirinya, menarik jubahnya dan berkata: (Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana )
"Darwis yang mulia, aku orang tuli yang tidak dapat mengerti ujung pangkal dari apa yang dibicarakan dua orang ini. Aku mohon dengan kebijaksanaan Anda, adili dan jelaskan apa yang mereka teriakkan masing-masing."
Namun si darwis itu bisu dan tidak dapat menjawab, tetapi ia mendatangi mereka dan memandangi ketiga orang tuli tersebut dengan penuh selidik, yang sekarang telah menghentikan pembicaraan mereka.
Ia memandangi demikian lama dan dengan tajam, satu per satu, hingga mereka mulai merasa tidak enak. Mata hitamnya yang berkilau menusuk ke dalam mata mereka, mencari kebenaran tentang persoalan tersebut, mencoba mendapatkan petunjuk pada situasi itu. Tetapi masing-masing mulai merasa takut kalau-kalau ia akan menyihir mereka, atau mengendalikan kemauan mereka.
Tiba-tiba si pencuri meloncat ke atas kuda dan melarikannya dengan kencang sekali. Begitu pula dengan si penggembala, segera mengumpulkan ternaknya dan menggiring jauh ke atas bukit. Si pemotong rumput, tidak berani menatap mata si darwis, mengemasi rumputnya ke dalam kantong dan mengangkatnya di atas bahu, berjalan menuruni bukit menuju rumahnya.
Darwis itu melanjutkan perjalanannya, berpikir sendiri bahwa kata-kata kadang merupakan bentuk komunikasi yang tidak berguna, bahwa orang mungkin lebih baik tidak pernah mengucapkannya!
"Aku tidak tahu apa-apa terhadap pincangnya domba ini!" teriak pemotong rumput.
"Suruh ia mengatakan kepadaku, mengapa menolak pemberianku," desak si pengembala, "aku hanya ingin memberikannya sebagai penghargaan!"
"Aku mengaku mengambil kuda," ujar pencuri "tetapi aku tuli, dan aku tidak tahu siapa diantara kalian pemilik kuda ini."
Pada saat itu, dari kejauhan, tampak seorang darwis tua, berjalan sepanjang jalan berdebu ke arah menuju desa. Si pemotong rumput lari menghampirinya, menarik jubahnya dan berkata: (Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana )
"Darwis yang mulia, aku orang tuli yang tidak dapat mengerti ujung pangkal dari apa yang dibicarakan dua orang ini. Aku mohon dengan kebijaksanaan Anda, adili dan jelaskan apa yang mereka teriakkan masing-masing."
Namun si darwis itu bisu dan tidak dapat menjawab, tetapi ia mendatangi mereka dan memandangi ketiga orang tuli tersebut dengan penuh selidik, yang sekarang telah menghentikan pembicaraan mereka.
Ia memandangi demikian lama dan dengan tajam, satu per satu, hingga mereka mulai merasa tidak enak. Mata hitamnya yang berkilau menusuk ke dalam mata mereka, mencari kebenaran tentang persoalan tersebut, mencoba mendapatkan petunjuk pada situasi itu. Tetapi masing-masing mulai merasa takut kalau-kalau ia akan menyihir mereka, atau mengendalikan kemauan mereka.
Tiba-tiba si pencuri meloncat ke atas kuda dan melarikannya dengan kencang sekali. Begitu pula dengan si penggembala, segera mengumpulkan ternaknya dan menggiring jauh ke atas bukit. Si pemotong rumput, tidak berani menatap mata si darwis, mengemasi rumputnya ke dalam kantong dan mengangkatnya di atas bahu, berjalan menuruni bukit menuju rumahnya.
Darwis itu melanjutkan perjalanannya, berpikir sendiri bahwa kata-kata kadang merupakan bentuk komunikasi yang tidak berguna, bahwa orang mungkin lebih baik tidak pernah mengucapkannya!
(mhy)
Lihat Juga :