Kejahatan Otak Menurut Al-Qur'an

Selasa, 15 Desember 2020 - 11:35 WIB
Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya. (QS 55:41).

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ

نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat dusta dan durhaka) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. (QS 96:15 dan 16).

Hukuman dan siksa yang amat keras bagi kejahatan otak itu bukanlah suatu ancaman biasa. Lanjutan ayat di atas menerangkan bahwa besok hari mereka akan berhadapan dengan malaikat Zabaniah, yaitu malaikat yang tidak pernah lelah menyiksanya.

Baca juga: Begini Seburuk-buruk dan Sebodoh-bodoh Orang, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani


Kalangan ilmuwan modern menganggap bahwa bagian naashiya itu berhubungan dengan frontal bone yaitu otak bagian depan.

Namun perlu diketahui bahwa Al-Qur'an menyebut bagian depan kepala atau dahi itu sebagai jibah. Dengan demikian jelas bahwa menurut Al-Quran antara ubun-ubun (naashiya) dengan dahi (jibah) itu berbeda.

Secara anatomis dan fisiologis perihal ubun-ubun itu disampaikan dalam ayat yang serangkai dengan 5 ayat yang turun pertama kali. Dalam kaidah fisiologi menurut Al-Qur'an, sangat jelas berkaitan dengan fungsi organ pendengaran yang dalam rangkaian ayat itu telah mulai tercipta dan berfungsi sejak dalam bentuk 'alaqoh, yaitu 80 hari setelah dijadikan.

Surat yang diawali dengan kata Iqro' tersebut sesungguhnya juga menjelaskan bahwa sejak fase 'alaqoh itu telinga sudah berfungsi, dan menerima pengertian-pengertian lewat kalam-kalam. Dengan bekal pengertian dan pengetahuan dari kalam-kalam itulah ubun-ubun sesungguhnya dapat merencanakan suatu perbuat baik dan benar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!