Hakikat Mimpi Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani

Sabtu, 09 Januari 2021 - 10:45 WIB
Allah memerintahkan Nabi-Nya: "Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf Ayat 108)

Dalam ayat ini 'orang yang mengikuti aku' adalah manusia sempurna, guru yang tersambung dengan Nabi Muhamamad yang akan mewarisi ilmu batin dan kebijaksanaan beliau.

Dua Jenis Mimpi

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani menyebutkan, ada dua jenis mimpi yaitu mimpi subjektif dan mimpi objektif.Jenis pertama mimpi subjektif artinya pandangan atau perasaan yang lahir dari diri sendiri. Mimpi ini seperti bayangan atau gambaran suasana kerohanian (hati).

Adapun mimpi objektif mengandung gambaran yang berkaitan dengan suasana seseorang yang bebas dari keresahan. Ia mengenal diri dan menemui ketenteraman pikirannya. Gambarannya adalah kelezatan yang dia akan temui di dalam surga, wewangian dan suara indah di dalam surga.

Dia akan bermimpi beberapa jenis hewan dan burung yang menyerupai paling cantik yang ada dalam dunia. Hewan yang dilihat di dalam mimpi itu adalah hewan surga.

Misalnya, unta adalah hewan surga. Kuda sebagai hewan yang membawa tentara suci dalam peperangan menentang orang-orang kafir di sekelilingnya. Lembu jantan kepada Nabi Adam membajak tanah untuk ditanami gandum. Kambing biri-biri datangnya dari madu surga. Unta diciptakan dari cahaya surga, kuda dari selasih manis di dalam surga, biri-biri dari kunyit surga.

Baghal (hewan sejenis antara kuda dan keledai) menggambarkan suasana terendah seseorang yang menemui hati dan fikiran yang tenang. Apabila dia mimpikan baghal itu tandanya dia malas dalam melakukan ibadah sebab hawa nafsu badannya menahan, dan usaha ruhaninya tidak memberi hasil. Dia harus bertaubat dan melakukan kebajikan supaya mendapatkan hasil.

Keledai diciptakan dari batu surga dan diberikan untuk berkhidmat kepada Nabi Adam dan keturunannya. Keledai adalah lambang jasad dan keperluan kebendaan. Jasad adalah hewan yang membawa beban atau membawa ruh. Jika seseorang menjadi hamba kepada jasad dia adalah umpama orang yang memikul keledai di atas bahunya. Jadi, keledai melambangkan cara atau alat seseorang mengarahkan urusan akhiratnya di dalam dunia.

Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhi berkata: "Jika aku tidak dibentuk oleh Tuhanku, aku tidak akan mengenal-Nya".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!