Bolehkah Wali Mengumpat Seseorang? Ini Jawaban Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Kamis, 14 Januari 2021 - 18:16 WIB
Poster Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani/Foto/Ilustrasi/Shopee
KADANG Allah memberitahu para wali-Nya, tentang kesalahan-kesalahan dan kepalsuan orang, dan pernyataan-pernyataan palsunya tentang tindakan, kata, pikiran dan tujuannya.
"Para waliullah dibuat amat cemburu akan Tuhannya, Nabi-Nya dan agama-Nya. Kemarahan batinlah dan kemarahan lahiriah terpacu oleh pikirannya," tutur Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitabnya berjudul Futuh Al-Ghaib .
Baca juga: Di Mana Posisi Kita? Begini Jawaban Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Bagaimana bisa senang, katanya lagi, bila mempunyai penyakit dalam dan luar. Bagaimana bisa beriman akan keesaan Tuhan, bila berkencederungan kesyirikan manusia dari-Nya dan bila masih berpihak kepada musuh, si setan yang terkutuk, dan si munafik yang kelak dicampakkan ke dasar neraka dan tinggal untuk selamanya?
Menyebut kesalahan-kesalahan seperti itu, tindakan-tindakan kejinya dan pengakuannya sebagai shiddiq, keberasingannya dengan mereka yang telah meluruhkan diri ke dalam takdir , terluncur dari lidah sang wali.
Kadang dikarenakan kecemburuan akan keagungan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Kadang karena menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya. Kadang karena Kemahakuasaan kehendak dan kemurkaannya terhadap orang palsu yang mendustakan para
wali.
Baca juga: Kapan dan Kepada Siapa Doa Dikabulkan? Ini Jawaban Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Para wali mengutuk pengumpatan terhadap orang semacam itu, dan “bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memperhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan hal-hal yang asing bagi orang-orang yang berkedudukan?”
Pengutukan semacam itu, dari mereka, tak melebihi firman Allah: “Dosa keduanya lebih besar daripara manfaat keduanya” (QS. 2:219)
"Para waliullah dibuat amat cemburu akan Tuhannya, Nabi-Nya dan agama-Nya. Kemarahan batinlah dan kemarahan lahiriah terpacu oleh pikirannya," tutur Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitabnya berjudul Futuh Al-Ghaib .
Baca juga: Di Mana Posisi Kita? Begini Jawaban Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Bagaimana bisa senang, katanya lagi, bila mempunyai penyakit dalam dan luar. Bagaimana bisa beriman akan keesaan Tuhan, bila berkencederungan kesyirikan manusia dari-Nya dan bila masih berpihak kepada musuh, si setan yang terkutuk, dan si munafik yang kelak dicampakkan ke dasar neraka dan tinggal untuk selamanya?
Menyebut kesalahan-kesalahan seperti itu, tindakan-tindakan kejinya dan pengakuannya sebagai shiddiq, keberasingannya dengan mereka yang telah meluruhkan diri ke dalam takdir , terluncur dari lidah sang wali.
Kadang dikarenakan kecemburuan akan keagungan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Kadang karena menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya. Kadang karena Kemahakuasaan kehendak dan kemurkaannya terhadap orang palsu yang mendustakan para
wali.
Baca juga: Kapan dan Kepada Siapa Doa Dikabulkan? Ini Jawaban Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Para wali mengutuk pengumpatan terhadap orang semacam itu, dan “bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memperhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan hal-hal yang asing bagi orang-orang yang berkedudukan?”
Pengutukan semacam itu, dari mereka, tak melebihi firman Allah: “Dosa keduanya lebih besar daripara manfaat keduanya” (QS. 2:219)
Lihat Juga :