Menolak Jadi Khalifah, Ali bin Abi Thalib: Aku Lebih Baik Jadi Wazir
Senin, 18 Januari 2021 - 09:37 WIB
Ilustrasi/Ist
Bertempat di Masjid Nabi , kaum Muhajirin dan Anshar bulat berpendapat, bahwa hanya Ali bin Abi Thalib r.a. lah tokoh yang paling mustahak dibai'at sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan yang tewas terbunuh.
Baca juga: Ketegangan Saat Sahabat Nabi Menolak Jadi Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan
Buku "Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a." karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini memaparkan setelah itu, semua yang hadir berdiri serentak, kemudian berangkat bersama-sama ke rumah Ali bin Abi Thalib. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan mendesak agar Ali bin Abi Thalib keluar. Setelah Ali keluar, semua orang berteriak agar ia bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai'at menjadi Amirul Mukminin.
Pada mulanya Ali bin Abi Thalib menolak dibai'at sebagai Khalifah. Dengan terus terang ia menyatakan: "Aku lebih baik menjadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang Amir yang berkuasa. Siapa pun yang kalian bai'at sebagai Khalifah, akan kuterima dengan rela. Ingatlah, kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan pikiran."
Baca juga: Pasca-Terbunuhnya Utsman bin Affan: Delapan Hari Tanpa Khalifah
Jawaban Ali bin Abi Thalib yang seperti itu tak dapat diterima sebagai alasan oleh banyak kaum muslimin yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau setengah memaksa, supaya Ali bersedia dibai'at oleh mereka sebagai Khalifah.
Dengan mantap mereka menegaskan pendirian: "Tidak ada orang lain yang dapat menegakkan pemerintahan dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir terhadap ummat Islam, jika kekhalifahan jatuh ke tangan orang lain…"
Beberapa saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Ali bin Abi Thalib dengan mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w . dan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan kepemimpinan tertinggi kepada Ali bin Abi Thalib. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang mereka ajukan Ali bin Abi Thalib tetap menyadari, jika ia menerima pembai'atan mereka pasti akan menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan gawat.
Baca juga: Putra Abu Bakar Ash-Shiddiq Terlibat Pembunuhan Khalifah Utsman?
Baru setelah Ali bin Abi Thalib yakin benar, bahwa kaum muslimin memang sangat menginginkan pimpinannya, dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima pembai'atan mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Ali bin Abi Thalib bersedia dibai'at, ialah demi kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin.
Baca juga: Ketegangan Saat Sahabat Nabi Menolak Jadi Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan
Buku "Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a." karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini memaparkan setelah itu, semua yang hadir berdiri serentak, kemudian berangkat bersama-sama ke rumah Ali bin Abi Thalib. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan mendesak agar Ali bin Abi Thalib keluar. Setelah Ali keluar, semua orang berteriak agar ia bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai'at menjadi Amirul Mukminin.
Pada mulanya Ali bin Abi Thalib menolak dibai'at sebagai Khalifah. Dengan terus terang ia menyatakan: "Aku lebih baik menjadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang Amir yang berkuasa. Siapa pun yang kalian bai'at sebagai Khalifah, akan kuterima dengan rela. Ingatlah, kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan pikiran."
Baca juga: Pasca-Terbunuhnya Utsman bin Affan: Delapan Hari Tanpa Khalifah
Jawaban Ali bin Abi Thalib yang seperti itu tak dapat diterima sebagai alasan oleh banyak kaum muslimin yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau setengah memaksa, supaya Ali bersedia dibai'at oleh mereka sebagai Khalifah.
Dengan mantap mereka menegaskan pendirian: "Tidak ada orang lain yang dapat menegakkan pemerintahan dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir terhadap ummat Islam, jika kekhalifahan jatuh ke tangan orang lain…"
Beberapa saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Ali bin Abi Thalib dengan mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w . dan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan kepemimpinan tertinggi kepada Ali bin Abi Thalib. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang mereka ajukan Ali bin Abi Thalib tetap menyadari, jika ia menerima pembai'atan mereka pasti akan menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan gawat.
Baca juga: Putra Abu Bakar Ash-Shiddiq Terlibat Pembunuhan Khalifah Utsman?
Baru setelah Ali bin Abi Thalib yakin benar, bahwa kaum muslimin memang sangat menginginkan pimpinannya, dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima pembai'atan mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Ali bin Abi Thalib bersedia dibai'at, ialah demi kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin.
Lihat Juga :