Kisah Pembangkangan Muawiyah kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib
Jum'at, 22 Januari 2021 - 18:43 WIB
Ada lagi tindakan dan langkah Khalifah Ali bin Abi Thalib yang sangat menjengkelkan lawan-lawan politiknya. Yaitu tindakan menertibkan aparatur pemerintahan. Penguasa-penguasa daerah yang selama 6 tahun terakhir masa pemerintahan Khalifah Utsman r.a. terbukti telah menyalah-gunakan wewenang untuk kepentingan pribadi dan golongan, digeser seorang demi seorang.
Baca juga: Menolak Jadi Khalifah, Ali bin Abi Thalib: Aku Lebih Baik Jadi Wazir
Banyak pejabat tinggi yang tidak dipakai lagi. Di antara mereka ialah Marwan bin Al Hakam, seorang pembantu Khalifah Utsman r.a. yang sangat dominan kekuasaannya, yang kemudian lari meninggalkan Madinah. Juga Abdullah bin Abi Sarah digeser dari kedudukkannya sebagai penguasa daerah Mesir.
Pembangkang
Khalifah Ali bin Abi Thalib juga berniat mengganti penguasa daerah Syam yang berpengaruh itu, Muawiyah bin Abi Sufyan .
Sebelum bertindak melaksanakan penertiban, Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengadakan pertukaran pendapat dengan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar . Ia yakin, bahwa hanya dengan aparatur yang bersih dan sepenuhnya mengabdi kepentingan agama dan ummat saja, pemerintahnya akan dapat berjalan dengan lancar dan kebenaran serta keadilan dapat ditegakkan.
Tetapi memecat Muawiyah bin Abi Sufyan tidaklah mudah. Ia dalam waktu relatif panjang menjadi seorang penguasa di daerah Syam. Ia bukan hanya membangkang, bahkan menentang kekhalifahan Ali r.a. secara terang-terangan.
Sejak mendengar Ali bin Abi Thalib terbai'at sebagai Amirul Mukminin, Muawiyah telah memasang kuda-kuda untuk menjegal kepemimpinan Ali. Apa yang disiapkan oleh Muawiyah bukannya tidak dimengerti oleh Amirul Mukminin, dan justru itulah motivasinya hendak menggeser Muawiyah.
Banyak sahabat Ali bin Abi Thalib yang menyampaikan kekhawatiran bila Khalifah Ali bin Abi Thalib melaksanakan niatnya. Mereka menasehatkan agar Ali bin Abi Thalib tidak cepat-cepat mengambil tindakan terhadap Muawiyah.
Mereka mengatakan: "Kami yakin Muawiyah tidak akan tinggal diam bila dia disingkirkan dari kedudukannya. Sebaliknya, ada kemungkinan ia merasa cukup puas jika sementara dibiarkan memegang jabatan itu."
Baca juga: Menolak Jadi Khalifah, Ali bin Abi Thalib: Aku Lebih Baik Jadi Wazir
Banyak pejabat tinggi yang tidak dipakai lagi. Di antara mereka ialah Marwan bin Al Hakam, seorang pembantu Khalifah Utsman r.a. yang sangat dominan kekuasaannya, yang kemudian lari meninggalkan Madinah. Juga Abdullah bin Abi Sarah digeser dari kedudukkannya sebagai penguasa daerah Mesir.
Pembangkang
Khalifah Ali bin Abi Thalib juga berniat mengganti penguasa daerah Syam yang berpengaruh itu, Muawiyah bin Abi Sufyan .
Sebelum bertindak melaksanakan penertiban, Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengadakan pertukaran pendapat dengan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar . Ia yakin, bahwa hanya dengan aparatur yang bersih dan sepenuhnya mengabdi kepentingan agama dan ummat saja, pemerintahnya akan dapat berjalan dengan lancar dan kebenaran serta keadilan dapat ditegakkan.
Tetapi memecat Muawiyah bin Abi Sufyan tidaklah mudah. Ia dalam waktu relatif panjang menjadi seorang penguasa di daerah Syam. Ia bukan hanya membangkang, bahkan menentang kekhalifahan Ali r.a. secara terang-terangan.
Sejak mendengar Ali bin Abi Thalib terbai'at sebagai Amirul Mukminin, Muawiyah telah memasang kuda-kuda untuk menjegal kepemimpinan Ali. Apa yang disiapkan oleh Muawiyah bukannya tidak dimengerti oleh Amirul Mukminin, dan justru itulah motivasinya hendak menggeser Muawiyah.
Banyak sahabat Ali bin Abi Thalib yang menyampaikan kekhawatiran bila Khalifah Ali bin Abi Thalib melaksanakan niatnya. Mereka menasehatkan agar Ali bin Abi Thalib tidak cepat-cepat mengambil tindakan terhadap Muawiyah.
Mereka mengatakan: "Kami yakin Muawiyah tidak akan tinggal diam bila dia disingkirkan dari kedudukannya. Sebaliknya, ada kemungkinan ia merasa cukup puas jika sementara dibiarkan memegang jabatan itu."
Lihat Juga :