Wabah Covid-19, Quraish Shihab: Bukan Siksaan tapi Peringatan
Senin, 13 April 2020 - 10:35 WIB
Wabah virus corona bukan siksaan tapi merupakan peringatan dari Allah. Foto/Ilustrasi: Youtube
ULAMA Tafsir Indonesia Prof Dr Muhammad Quraish Shihab mengemukakan sisi lain tentang keberadaan Covid-19 yang tengah melanda negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Menurut Quraish Shihab, wabah Covid-19 merupakan peringatan dari Allah, bukan siksaan.
"Corona ini bukan siksa, tapi peringatan. Peringatan supaya kita menjadi lebih baik, supaya kita menjadi lebih eling, supaya kita lebih banyak menjalin hubungan antarsesama kita dan sebagainya. Kita diperingatkan itu, dan peringatan itu adalah hikmah," jelas Prof Quraish pada program Kelas.Mu Belajar Live yang disiarkan cariustadz.id, Ahad (12/4).
Acara tersebut bertemakan "Menolak Jenazah dalam Pandangan Agama dan Sisi Kemanusiaan". Menurut Quraish Shihab, mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu di rumah sebagai akibat Covid-19 ini untuk melakukan berbagai kegiatan yang menambah kebaikan. "Kita harus yakin bahwa tidak ada yang ditetapkan Tuhan, kecuali baik," jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur'an itu.
Tak Habis Pikir
Di sisi lain, Quraish Shihab mengecam sebagian masyarakat, terlebih kepada provokator yang menolak pemakaman jenazah seorang perawat RSUP Dr Kariadi yang dinyatakan meninggal karena Covid-19. "Saya kira paling sedikit dia harus dikecam," katanya.
Quraish tak habis pikir sampai terjadi peristiwa penolakan dari sebagian masyarakat terhadap jenazah Covid-19. Apalagi jenazah tersebut adalah seorang perawat yang berjasa menangani pandemi itu.
Menurut dia, seandainya orang yang mati itu penjahat, lalu dihalangi dalam proses pemakamannya, maka tindakan penolakan itu masih ada alasan. Sekalipun tetap saja penolakan itu tidak dibenarkan.
"Ini perawat-perawat yang sudah berkorban untuk itu, lantas diperlakukan semacam itu. Ini bukan hanya di luar peri kemanusiaan. Akan tetapi, juga di luar tuntunan agama dan moral," ujarnya.
Quraish mengingatkan, orang yang meninggal karena Covid-19 termasuk syahid, sekalipun tingkatannya tidak seperti syahid karena wafat dalam perang. Ia menggambarkan wafatnya orang tersebut disambut malaikat maut. "Jadi tidak wajar untuk dihalangi," tegasnya.
Dia pun mendukung aparat yang menangkap pelaku penolakan terhadap jenazah. Menurutnya, penangkapan terhadap pelaku dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan kepada masyarakat sehingga tidak ada yang meremehkan persoalan tersebut.
"Corona ini bukan siksa, tapi peringatan. Peringatan supaya kita menjadi lebih baik, supaya kita menjadi lebih eling, supaya kita lebih banyak menjalin hubungan antarsesama kita dan sebagainya. Kita diperingatkan itu, dan peringatan itu adalah hikmah," jelas Prof Quraish pada program Kelas.Mu Belajar Live yang disiarkan cariustadz.id, Ahad (12/4).
Acara tersebut bertemakan "Menolak Jenazah dalam Pandangan Agama dan Sisi Kemanusiaan". Menurut Quraish Shihab, mengajak siapa pun untuk memanfaatkan waktu di rumah sebagai akibat Covid-19 ini untuk melakukan berbagai kegiatan yang menambah kebaikan. "Kita harus yakin bahwa tidak ada yang ditetapkan Tuhan, kecuali baik," jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur'an itu.
Tak Habis Pikir
Di sisi lain, Quraish Shihab mengecam sebagian masyarakat, terlebih kepada provokator yang menolak pemakaman jenazah seorang perawat RSUP Dr Kariadi yang dinyatakan meninggal karena Covid-19. "Saya kira paling sedikit dia harus dikecam," katanya.
Quraish tak habis pikir sampai terjadi peristiwa penolakan dari sebagian masyarakat terhadap jenazah Covid-19. Apalagi jenazah tersebut adalah seorang perawat yang berjasa menangani pandemi itu.
Menurut dia, seandainya orang yang mati itu penjahat, lalu dihalangi dalam proses pemakamannya, maka tindakan penolakan itu masih ada alasan. Sekalipun tetap saja penolakan itu tidak dibenarkan.
"Ini perawat-perawat yang sudah berkorban untuk itu, lantas diperlakukan semacam itu. Ini bukan hanya di luar peri kemanusiaan. Akan tetapi, juga di luar tuntunan agama dan moral," ujarnya.
Quraish mengingatkan, orang yang meninggal karena Covid-19 termasuk syahid, sekalipun tingkatannya tidak seperti syahid karena wafat dalam perang. Ia menggambarkan wafatnya orang tersebut disambut malaikat maut. "Jadi tidak wajar untuk dihalangi," tegasnya.
Dia pun mendukung aparat yang menangkap pelaku penolakan terhadap jenazah. Menurutnya, penangkapan terhadap pelaku dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan kepada masyarakat sehingga tidak ada yang meremehkan persoalan tersebut.
Lihat Juga :