Hati Siti Aisyah Tersayat-sayat Meratapi Akhir Tragis Muhammad bin Abu Bakar
Jum'at, 12 Februari 2021 - 19:13 WIB
Ilustrasi/Ist
KHALIFAH Ali bin Abu Thalib r.a. pulang ke Kufah . Malam harinya ia mengumpulkan sejumlah pengikut terkemuka. Dalam pertemuan itu Ali bin Abu Thalib r.a. tampak sedih dan sangat kecewa.
Baca juga: Muawiyah Serbu Mesir, Pasukan Khalifah Ali bin Abu Thalib Enggan Berperang
Buku Sejarah Hidup Imam Ali ra karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini menceritakan, dalam kondisi itu Ali berkata: "Puji syukur ke hadirat Allah yang mengatur semua urusan menurut takdir-Nya, dan yang menilai siapa-siapa berbuat kebajikan. Dialah yang memberi cobaan kepadaku dalam menghadapi kalian."
"Hai saudara-saudara, kalian itu sebenarnya adalah kelompok orang-orang yang tidak mau taat bila kuperintah, dan tidak mau menyambut bila kuajak. Celaka sekali kalian itu! Kemenangan apa yang kalian tunggu jika kalian enggan berjuang membela hak-hak kalian? Di dunia ini sesungguhnya mati lebih baik daripada hidup meninggalkan kebenaran!"
"Demi Allah," kata Ali bin Abu Thalib r.a. seterusnya. "Seandainya maut datang kepadaku --dan biarlah ia datang-- kalian akan melihat aku benar-benar marah menjadi teman bagi orang-orang seperti kalian! Apakah kalian tidak mempunyai agama yang mewajibkan kalian bersatu?"
"Apakah kalian tidak bisa marah kalau kehormatan kalian diinjak-injak? Apakah kalian tidak mendengar bahwa musuh kalian hendak mengurangi wilayah negeri kalian dan mereka sekarang sedang melancarkan serangan terhadap kalian? Apakah tidak aneh kalau orang-orang durhaka dan zalim bisa menyambut baik ajakan Muawiyah dan bersedia dikerahkan ke mana saja menurut kehendaknya?"
"Sedangkan kalian sendiri, tiap kuajak pasti bertengkar, lari bercerai-berai menjauhi aku, membangkang dan membantah…!"
Baca juga: Pernyataan Pilu Ali bin Abu Thalib Setelah Pengikutnya Tinggal 50 Orang
Sumpah Muhammad bin Abu Bakar
Di Mesir , seterimanya surat yang berisi petunjuk dari Ali bin Abu Thalib r.a., Muhammad bin Abu Bakar segera menulis jawaban kepada Amr bin Al Ash , yang isinya: "Aku sudah memahami isi suratmu dan telah mengerti apa yang kau sebutkan. Seolah-olah engkau tidak suka melihatku celaka di tanganmu, tetapi aku bersaksi, demi Allah, bahwa engkau itu adalah salah seorang yang hidup bergelimang dalam kebatilan."
"Seolah-olah engkau memberi nasehat kepadaku, tetapi aku bersumpah, bahwa sesungguhnya bagiku engkau adalah musuh yang harus dicurigai".
"Engkau mengatakan bahwa penduduk negeri ini emoh kepadaku dan menyesal pernah jadi pengikutku, tetapi orang-orang yang seperti itu sebenarnya hanyalah mereka yang bersekutu dengan setan terkutuk. Aku berserah diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, karena hanya Dia-lah tempat orang berserah diri yang sebaik-baiknya."
Baca juga: Mari ke Surga..! Slogan Khawarij Saat Perang Melawan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Bersamaan dengan itu, Muhammad bin Abu Bakar juga menulis jawaban kepada Muawiyah bin Abi Sufyan . Isinya antara lain: "Suratmu sudah kuterima. Engkau menyebut-nyebut persoalan Utsman bin Affan, suatu persoalan yang aku tidak perlu minta maaf kepadamu. Seolah-olah engkau hendak memberi nasehat kepadaku dengan menggertak supaya aku menyerahkan kedudukan kepadamu. Dengan menakut-nakuti aku, engkau sekaligus juga berpura-pura menunjukkan belas kasihan kepadaku. Padahal sebenarnya aku sendiri sangat mengharapkan bencana menimpa kalian."
"Mudah-mudahan Allah akan menghancurkan kalian dalam peperangan sehingga kalian akan menjadi orang-orang hina yang lari tunggang langgang."
"Kalau sampai engkau berkuasa di dunia ini, demi Allah, betapa banyaknya orang zalim yang akan kau bela. Betapa banyaknya orang mukmin yang akan kau bunuh dan kau cincang! Hanya kepada Allah sajalah semua persoalan kembali. Sesungguhnya Dia-lah Maha Pengasih dan Penyayang…"
Seterimanya surat jawaban dari Muhammad bin Abu Bakar, Amr bin Al Ash dan pasukannya mulai bergerak memasuki Mesir. Mendengar berita tentang gerakan Amr tersebut, Muhammad bin Abu Bakar berpidato di depan umum:
Baca juga: Muawiyah Serbu Mesir, Pasukan Khalifah Ali bin Abu Thalib Enggan Berperang
Buku Sejarah Hidup Imam Ali ra karya H.M.H. Al Hamid Al Husaini menceritakan, dalam kondisi itu Ali berkata: "Puji syukur ke hadirat Allah yang mengatur semua urusan menurut takdir-Nya, dan yang menilai siapa-siapa berbuat kebajikan. Dialah yang memberi cobaan kepadaku dalam menghadapi kalian."
"Hai saudara-saudara, kalian itu sebenarnya adalah kelompok orang-orang yang tidak mau taat bila kuperintah, dan tidak mau menyambut bila kuajak. Celaka sekali kalian itu! Kemenangan apa yang kalian tunggu jika kalian enggan berjuang membela hak-hak kalian? Di dunia ini sesungguhnya mati lebih baik daripada hidup meninggalkan kebenaran!"
"Demi Allah," kata Ali bin Abu Thalib r.a. seterusnya. "Seandainya maut datang kepadaku --dan biarlah ia datang-- kalian akan melihat aku benar-benar marah menjadi teman bagi orang-orang seperti kalian! Apakah kalian tidak mempunyai agama yang mewajibkan kalian bersatu?"
"Apakah kalian tidak bisa marah kalau kehormatan kalian diinjak-injak? Apakah kalian tidak mendengar bahwa musuh kalian hendak mengurangi wilayah negeri kalian dan mereka sekarang sedang melancarkan serangan terhadap kalian? Apakah tidak aneh kalau orang-orang durhaka dan zalim bisa menyambut baik ajakan Muawiyah dan bersedia dikerahkan ke mana saja menurut kehendaknya?"
"Sedangkan kalian sendiri, tiap kuajak pasti bertengkar, lari bercerai-berai menjauhi aku, membangkang dan membantah…!"
Baca juga: Pernyataan Pilu Ali bin Abu Thalib Setelah Pengikutnya Tinggal 50 Orang
Sumpah Muhammad bin Abu Bakar
Di Mesir , seterimanya surat yang berisi petunjuk dari Ali bin Abu Thalib r.a., Muhammad bin Abu Bakar segera menulis jawaban kepada Amr bin Al Ash , yang isinya: "Aku sudah memahami isi suratmu dan telah mengerti apa yang kau sebutkan. Seolah-olah engkau tidak suka melihatku celaka di tanganmu, tetapi aku bersaksi, demi Allah, bahwa engkau itu adalah salah seorang yang hidup bergelimang dalam kebatilan."
"Seolah-olah engkau memberi nasehat kepadaku, tetapi aku bersumpah, bahwa sesungguhnya bagiku engkau adalah musuh yang harus dicurigai".
"Engkau mengatakan bahwa penduduk negeri ini emoh kepadaku dan menyesal pernah jadi pengikutku, tetapi orang-orang yang seperti itu sebenarnya hanyalah mereka yang bersekutu dengan setan terkutuk. Aku berserah diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, karena hanya Dia-lah tempat orang berserah diri yang sebaik-baiknya."
Baca juga: Mari ke Surga..! Slogan Khawarij Saat Perang Melawan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Bersamaan dengan itu, Muhammad bin Abu Bakar juga menulis jawaban kepada Muawiyah bin Abi Sufyan . Isinya antara lain: "Suratmu sudah kuterima. Engkau menyebut-nyebut persoalan Utsman bin Affan, suatu persoalan yang aku tidak perlu minta maaf kepadamu. Seolah-olah engkau hendak memberi nasehat kepadaku dengan menggertak supaya aku menyerahkan kedudukan kepadamu. Dengan menakut-nakuti aku, engkau sekaligus juga berpura-pura menunjukkan belas kasihan kepadaku. Padahal sebenarnya aku sendiri sangat mengharapkan bencana menimpa kalian."
"Mudah-mudahan Allah akan menghancurkan kalian dalam peperangan sehingga kalian akan menjadi orang-orang hina yang lari tunggang langgang."
"Kalau sampai engkau berkuasa di dunia ini, demi Allah, betapa banyaknya orang zalim yang akan kau bela. Betapa banyaknya orang mukmin yang akan kau bunuh dan kau cincang! Hanya kepada Allah sajalah semua persoalan kembali. Sesungguhnya Dia-lah Maha Pengasih dan Penyayang…"
Seterimanya surat jawaban dari Muhammad bin Abu Bakar, Amr bin Al Ash dan pasukannya mulai bergerak memasuki Mesir. Mendengar berita tentang gerakan Amr tersebut, Muhammad bin Abu Bakar berpidato di depan umum:
Lihat Juga :