Prof Agus Purwanto Ungkap Ini Mengapa Negara Islam Kalah dengan Barat
Jum'at, 19 Maret 2021 - 20:48 WIB
Ia menjelaskan ekspresi ayat al-Quran dalam menggambarkan “akal” selalu menggunakan kata kerja (fiil), alih-alih kata benda (isim). Dari 49 kata “akal” tidak ada satu pun yang menggunakan kata benda, bahkan hanya ada satu ayat dalam al-Quran yang menggunakan term “akal” dalam bentuk kata kerja lampau (fill madhi). Dominasi fiil mudhari dalam kata “akal” menunjukkan bahwa umat Islam seharusnya menggunakan akal secara terus menerus.
Lebih dari itu, kata “akal” dalam bentuk fiil mudhari didominasi oleh dhamir-dhamir yang bermakna komunal (jama’) bukan personal (mufrad) seperti ungkapan “ya’quluna” dan “ta’qiluna”.
Agus menyatakan bahwa pilihan kata ini memiliki filosofi yang mendalam. Baginya, hal tersebut menandakan bahwa berpikir merupakan anjuran yang mesti dikerjakan setiap orang beriman.
“Jadi dalam Islam, berpikir itu bukan sesuatu yang seperti monumen benda mati, juga bukan sekadar proses sejarah masa lalu, tetapi anjuran agar terus berpikir, berpikir, dan berpikir,” jelasnya.
Penjelasan Agus ini juga dapat dibaca langsung dalam sejumlah bukunya seperti Ayat-ayat Semesta.
Dengan demikian, Allah SWT melalui al-Quran sesungguhnya mendorong orang-orang beriman agar menggunakan akalnya untuk berpikir secara maksimal.
Berpikir secara radikal akan menghasilkan temuan-temuan yang dapat membawa pada satu kebanggaan bahwa Islam menjadi rahmat semesta alam. Sebab sejak dulu peradaban Islam selalu diidentikkan dengan kejayaan pengetahuan, sebagaimana Franz Rosenthal dalam The Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medievel Islam.
Lebih dari itu, kata “akal” dalam bentuk fiil mudhari didominasi oleh dhamir-dhamir yang bermakna komunal (jama’) bukan personal (mufrad) seperti ungkapan “ya’quluna” dan “ta’qiluna”.
Agus menyatakan bahwa pilihan kata ini memiliki filosofi yang mendalam. Baginya, hal tersebut menandakan bahwa berpikir merupakan anjuran yang mesti dikerjakan setiap orang beriman.
“Jadi dalam Islam, berpikir itu bukan sesuatu yang seperti monumen benda mati, juga bukan sekadar proses sejarah masa lalu, tetapi anjuran agar terus berpikir, berpikir, dan berpikir,” jelasnya.
Penjelasan Agus ini juga dapat dibaca langsung dalam sejumlah bukunya seperti Ayat-ayat Semesta.
Dengan demikian, Allah SWT melalui al-Quran sesungguhnya mendorong orang-orang beriman agar menggunakan akalnya untuk berpikir secara maksimal.
Berpikir secara radikal akan menghasilkan temuan-temuan yang dapat membawa pada satu kebanggaan bahwa Islam menjadi rahmat semesta alam. Sebab sejak dulu peradaban Islam selalu diidentikkan dengan kejayaan pengetahuan, sebagaimana Franz Rosenthal dalam The Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medievel Islam.
(mhy)
Lihat Juga :