Puisi Erotis yang Dibaca Pada Pertemuan Para Sufi Menurut Imam Al-Ghazali

Rabu, 22 Mei 2024 - 12:09 WIB
loading...
Puisi Erotis yang Dibaca...
Bentuk lain dari tarian-tarian mistik ini adalah dengan melukai diri sendiri sembari mengoyak-ngoyakkan pakaian. Ilustrasi: Ist
A A A
Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" (Ashraf Publication, Lahore, Mei 1979) menjelaskan perihal puisi erotis yang dibaca pada pertemuan-pertemuan para sufi yang banyak orang keberatan terhadap cara demikian itu.

Al-Ghazali mengatakan mesti kita ingat bahwa jika dalam puisi seperti ini disebut-sebut tentang pemisahan dari atau persekutuan dengan yang dicintai, maka para sufi - yang amat cinta pada Allah - menggunakan ungkapan semacam itu untuk menjelaskan pemisahan dan persekutuan dengan Dia.

Demikian pula, "jalan-jalan buntuk yang gelap" dipakai untuk menjelaskan kegelapan kekafiran; "kecerahan wajah" untuk cahaya keimanan ; dan "mabuk" sebagai ekstase (kegairanan) sang sufi. Ambil sebagai misal, bait dari sebuah puisi berikut ini:

Baca juga: Hukum Musik Menurut Imam Syafi'i

Mungkin sudah kuatur anggur
beribu takaran
Tapi, sampai 'kau habis mereguknya
tiada kegembiraan kaurasakan

"Dengan itu penulisnya bermaksud untuk mengatakan bahwa kenikmatan agama yang sejati tak akan bisa diraih lewat perintah resmi, tapi dengan rasa tertarik dan keinginan," ujar Al-Gahazali.

"Seseorang boleh jadi telah banyak berbicara dan menulis tentang cinta, keimanan, ketakwaan dan sebagainya, tapi sebelum ia sendiri memiliki sifat-sifat ini, semuanya itu tak bermanfaat baginya," lanjutnya.

Jadi, orang-orang yang mencari-cari kesalahan para sufi, kata Al-Ghazali lagi, karena sufi-sufi tersebut sangat terpengaruh - bahkan sampai mencapai ekstase - oleh bait-bait seperti itu, hanyalah orang-orang dangkal dan tak toleran. "Onta sekalipun kadang-kadang terpengaruh oleh lagu-lagu Arab yang dinyanyikan penunggangnya sehingga ia akan berlari kencang, memikul beban berat, sampai akhirnya tersungkur kelelahan," ujarnya.

Meskipun demikian, orang-orang yang mendengar syair pada sufi berada dalam bahaya dikutuk, jika ia menerapkan syair-syair yang didengarnya itu untuk Allah. Misalnya, ketika ia dengar syair seperti "Engkau berubah dari kecenderungan-semulamu", ia tak boleh menerapkannya untuk Allah - yang tak boleh berubah - melainkan untuk dirinya dan ragam suasana hatinya sendiri.

Baca juga: Pendapat UAH Tentang Hukum Musik, Berikut Penjelasannya

Allah bagaikan mentari yang selalu bersinar, tetapi bagi kita kadang-kadang cahaya-Nya terhalang oleh beberapa obyek yang ada di antara kita dan Dia.

Diriwayatkan bahwa beberapa ahli mencapai tingkat ekstase sedemikian rupa sehingga diri mereka hilang dalam Allah. Demikian halnya dengan Syaikh Abul-Hasan Nuri yang ketika mendengar seuntai syair tertentu, terjatuh dalam keadaan ekstase dan menerobos ke dalam ladang yang penuh dengan batang-batang tebu yang baru dipotong, berlari kian-kemari sampai kakinya berdarah penuh luka dan akhirnya mati tak lama sesudah itu.

Dalam kasus-kasus semacam itu, beberapa orang berpendapat bahwa Tuhan telah benar-benar turun ke dalam manusia, tapi ini adalah kesalahan yang sama besar dengan yang dilakukan oleh seseorang yang ketika pertama kali melihat bayangannya di cermin, berpendapat bahwa ia telah tersatukan dengan cermin itu, atau bahwa warna-warni merah-putih yang dipantulkan oleh cermin adalah sifat-sifat bawaan cermin itu.

Menurut al-Ghazali, keadaan-keadaan ekstase yang dialami para sufi beragam, sesuai dengan emosi-emosi yang dominan di dalamnya, yakni cinta, ketakutan, nafsu, tobat dan sebagainya. "Keadaan-keadaan ini, sebagaimana kita sebut di atas, dicapai seringkali tidak hanya sebagai hasil mendengarkan ayat-ayat al-Qur'an, tetapi juga syair yang merangsang," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Menyayat Hati...! Merangkul...
Menyayat Hati...! Merangkul Palestina dengan Puisi
Umat Islam Wajib Berilmu...
Umat Islam Wajib Berilmu dan Mandiri, Begini Penjelasan Syaikh Al-Qardhawi
Hukum Musik dan Menyanyi...
Hukum Musik dan Menyanyi Bisa Sunah: Melahirkan Perasaan Riang dan Menghibur Hati
Hati Itu Bisa Bosan,...
Hati Itu Bisa Bosan, Syaikh Al-Qardhawi: Tidak Salah Bergurau dan Bermain-main
Hukum Hiburan, Syaikh...
Hukum Hiburan, Syaikh Al-Qardhawi: Islam Mengakui Fitrah dan Insting Manusia
Seni Islam: Tidak Harus...
Seni Islam: Tidak Harus Berbahasa Arab dan tentang Ajaran Islam
Rekomendasi
Suara Bawah Air Terkeras...
Suara Bawah Air Terkeras Terdengar dari Lokasi Paling Terpencil di Bumi
Myanmar dan Bangladesh...
Myanmar dan Bangladesh Diminta Bersiap Hadapi Topan Mocha Hari Minggu Ini
Fenomena Luar Angkasa...
Fenomena Luar Angkasa Paling Langka Akan Terlihat dari Bumi
Artikel Terkini
Siap-siap Memasuki Muharram,...
Siap-siap Memasuki Muharram, Ini 4 Keutamaan Bulan Haram Tersebut!
Lambaian Tangan PPIH...
Lambaian Tangan PPIH Iringi 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tinggalkan Makkah
Pulang Ibadah dari Tanah...
Pulang Ibadah dari Tanah Suci, Bolehkah Memakai Gelar Haji?
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Infografis
6 Fenomena Bulan Langka...
6 Fenomena Bulan Langka yang Menarik untuk Diamati dan Dinikmati
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved