Idul Fitri dan Keselamatan Jiwa
Kamis, 21 Mei 2020 - 15:46 WIB
Maka semua proses peribadatan yang dilakukan bisa dipastikan memperhatikan keselamatan jiwa manusia. Jika prosedur tempat pelaksanaan ibadah harus disesuaikan selama masa penyebaran pandemi, itu semua demi menghadirkan ketenangan, kekhusyukan dan kehidmatan berjumpa dengan Allah.
Islam selalu membuat alternatif atau jalan keluar dari persoalan-persoalan ibadah yang sulit dilakukan manusia. Contoh yang paling sederhana, jika pelaksanaan salat berdiri tidak mampu dan membahayakan, maka salat bisa dilaksanakan dengan duduk atau berbaring. Begitu pula seandainya dalam niat hendak berangkat ke masjid tapi tidak dimungkinkan oleh sebab kejadian-kejadian tertentu, maka muadzin di masjid bisa menyerukan “salatlah kamu di rumah” (صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ). Itulah bukti bahwa Islam merupakan agama yang berpihak pada kondisi nyata tantangan manusia.
Kedua, Muhammadiyah melandaskan keputusannya atas dasar ketentuan-ketentuan dalil (nash) baik yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad SAW. Maklumat atau himbauan salat idul fitri di rumah, merupakan rekomendasi agama sesuai dengan semangat ketarjihan Muhammadiyah.
Ketiga, maklumat ibadah di rumah saat pandemi termasuk dilandaskan pada pertimbangan ilmu pengetahuan. Wabah virus Covid-19 berdasarkan hasil riset para ahli menyebar melalui interaksi manusia. Daya penularan virus ini sangat cepat dengan risiko berbahaya. Oleh karena itu, sangat gampang tertular jika manusia berkerumun, tidak menjaga jarak.
Kegiatan keagamaan yang mengumpulkan orang banyak termasuk salat berjamaah sangat berpotensi terjadi penularan covid19. Berdasarkan pertimbangan dalil ilmu pengetahuan itulah yang juga menjadi landasan Muhammadiyah memutuskan maklumat ibadah di rumah.
Baca juga: Hukum Salat 'Id di Rumah dan Cara Mengerjakannya
Perlu dipahami bahwa keputusan perihal keagamaan dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan merupakan ciri Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan telah mencontohkannya dengan menata ulang arah kiblat salat. KH Ahmad Dahlan membetulkan arah kiblat berdasarkan ilmu geografi dengan alat peta dunia. Metode seperti ini dulu dianggap aneh dan keluar dari kelaziman beragama. Saat ini, semua orang mengakui jika ilmu pengetahuan dapat membantu manusia meningkatkan kualitas peribadahan yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an.
Contoh lainnya, yakni saat Muhammadiyah mempergunakan perhitungan matematis dalam ilmu astronomi untuk penentuan awal ramadhan dan akhir bulan Ramadan. Tantangan Muhammadiyah hari ini dengan menggunakan pemodelan matematis dalam mempertimbangkan penyebaran wabah pandemi juga memperoleh respon sama persis. Ikhtiar memberikan panduan keagamaan yang benar dan mashlahat sangatlah penting.
Sebagai gerakan keislaman modern, Muhammadiyah punya tanggungjawab besar berperan dalam menuntun jalan tengah keluar dari problem dunia modern. Itu tidak mudah. Tapi muhammadiyah harus mempertahankan cara berpikir Islam yang berkemajuan ini.
Islam selalu membuat alternatif atau jalan keluar dari persoalan-persoalan ibadah yang sulit dilakukan manusia. Contoh yang paling sederhana, jika pelaksanaan salat berdiri tidak mampu dan membahayakan, maka salat bisa dilaksanakan dengan duduk atau berbaring. Begitu pula seandainya dalam niat hendak berangkat ke masjid tapi tidak dimungkinkan oleh sebab kejadian-kejadian tertentu, maka muadzin di masjid bisa menyerukan “salatlah kamu di rumah” (صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ). Itulah bukti bahwa Islam merupakan agama yang berpihak pada kondisi nyata tantangan manusia.
Kedua, Muhammadiyah melandaskan keputusannya atas dasar ketentuan-ketentuan dalil (nash) baik yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad SAW. Maklumat atau himbauan salat idul fitri di rumah, merupakan rekomendasi agama sesuai dengan semangat ketarjihan Muhammadiyah.
Ketiga, maklumat ibadah di rumah saat pandemi termasuk dilandaskan pada pertimbangan ilmu pengetahuan. Wabah virus Covid-19 berdasarkan hasil riset para ahli menyebar melalui interaksi manusia. Daya penularan virus ini sangat cepat dengan risiko berbahaya. Oleh karena itu, sangat gampang tertular jika manusia berkerumun, tidak menjaga jarak.
Kegiatan keagamaan yang mengumpulkan orang banyak termasuk salat berjamaah sangat berpotensi terjadi penularan covid19. Berdasarkan pertimbangan dalil ilmu pengetahuan itulah yang juga menjadi landasan Muhammadiyah memutuskan maklumat ibadah di rumah.
Baca juga: Hukum Salat 'Id di Rumah dan Cara Mengerjakannya
Perlu dipahami bahwa keputusan perihal keagamaan dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan merupakan ciri Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan telah mencontohkannya dengan menata ulang arah kiblat salat. KH Ahmad Dahlan membetulkan arah kiblat berdasarkan ilmu geografi dengan alat peta dunia. Metode seperti ini dulu dianggap aneh dan keluar dari kelaziman beragama. Saat ini, semua orang mengakui jika ilmu pengetahuan dapat membantu manusia meningkatkan kualitas peribadahan yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an.
Contoh lainnya, yakni saat Muhammadiyah mempergunakan perhitungan matematis dalam ilmu astronomi untuk penentuan awal ramadhan dan akhir bulan Ramadan. Tantangan Muhammadiyah hari ini dengan menggunakan pemodelan matematis dalam mempertimbangkan penyebaran wabah pandemi juga memperoleh respon sama persis. Ikhtiar memberikan panduan keagamaan yang benar dan mashlahat sangatlah penting.
Sebagai gerakan keislaman modern, Muhammadiyah punya tanggungjawab besar berperan dalam menuntun jalan tengah keluar dari problem dunia modern. Itu tidak mudah. Tapi muhammadiyah harus mempertahankan cara berpikir Islam yang berkemajuan ini.
Lihat Juga :