Panduan Lengkap Kaifiat Takbir dan Salat 'Id Berdasar Fatwa MUI

loading...
Panduan Lengkap Kaifiat Takbir dan Salat Id Berdasar Fatwa MUI
Kantor Majelis Ulama Indonesa. Foto/Okezone
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa terkait pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri di masa pandemi corona atau Covid-19. MUI membagi daerah yang rawan corona dan tidak.

Bagi daerah yang kasus corona terkendali dibolehkan berjamaah, tetapi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Tetapi di daerah yang masih rawan penyebaran corona, diminta salat di rumah.

Jika umat Islam berada di kawasan Covid-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H maka salat Idul Fitri dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, musala, atau tempat lain. (Baca juga: Kasus Positif Corona Bertambah Jadi 5.437, Dinkes DKI: 1.277 Orang Sembuh)

"Daerah yang dinyatakan terkendali itu salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktivitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam dalam keterangannya, Rabu (13/5).



Fatwa MUI ini dibahas mulai Rabu 6 Mei 2020 menyusul banyaknya pertanyaan dari masyarakat. MUI berharap fatwa ini bisa dijadikan pedoman pelaksanaan takbir dan salat idul fitri saat wabah dengan pertimbangan bahwa salat Idul Fitri merupakan ibadah yang menjadi salah satu syiar Islam dan simbol kemenangan dari menahan nafsu selama bulan Ramadan. (Baca juga: Begini Pendapat Muhammadiyah Soal Salat Id di Saat Wabah Corona)

Sampai saat ini wabah Covid -19 masih menjadi pandemi nasional yang belum sepenuhnya diangkat oleh Allah SWT.

Fatwa MUI ini ditandatangani Ketua Komisi Fatwa MUI Prof. Dr H Hasanuddin, AF dan Sekretaris Komisi Fatwa Dr HM Asrorun Ni’am Sholeh MA.



Berikut Panduan Kaifiat Takbir dan Salat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19 yang dikeluarkan MUI.
halaman ke-1 dari 5
cover top ayah
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ‌ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡ‌ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ‌‌ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ‌ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

(QS. Al-Baqarah:286)
cover bottom ayah
preload video