Tinggal 10 Hari Terakhir, Jangan Sia-siakan Ibadah Puasanya!
Minggu, 02 Mei 2021 - 10:04 WIB
Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
*لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).
Baca juga: Doa Agar Amal Ibadah Diterima Allah SWT
Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari, disebutkan bahwa lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.
Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari , Ibnu Hajar mengatakan, istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”
Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.
Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.
Baca juga: Jumlah Pengunjung Masjidil Haram Diprediksi Meningkat di 10 Hari Terakhir Ramadhan
3️. Melakukan berbagai macam maksiat
Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram.
Ulama salafush saleh Ibnu Rojab Al Hambali mengatakan, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan. (Dinukil dari Latho’if Al Ma’arif).
Baca juga: dr Tirta Sebut yang Tidak Percaya Covid-19 Mereka yang Kehilangan Pekerjaan
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
*لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).
Baca juga: Doa Agar Amal Ibadah Diterima Allah SWT
Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari, disebutkan bahwa lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.
Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari , Ibnu Hajar mengatakan, istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”
Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.
Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.
Baca juga: Jumlah Pengunjung Masjidil Haram Diprediksi Meningkat di 10 Hari Terakhir Ramadhan
3️. Melakukan berbagai macam maksiat
Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram.
Ulama salafush saleh Ibnu Rojab Al Hambali mengatakan, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, pen) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan. (Dinukil dari Latho’if Al Ma’arif).
Baca juga: dr Tirta Sebut yang Tidak Percaya Covid-19 Mereka yang Kehilangan Pekerjaan