Puasa dan Transformasi Hidup (1)
Rabu, 19 Mei 2021 - 22:55 WIB
Ketika manusia kuat secara spiritulitas maka fitrahnya akan hidup dan menjadi kendali hidupnya. Di sanalah kemudian manusia akan tajam dalam melihat mana yang baik dan mana yang buruk dalam hidupnya. Kemampuan memilah antara kebaikan dan keburukan atau kebenaran dan kebatilan dikenal dengan "Al-Furqan" (pembeda).
Ketika hidup manusia tidak lagi disinari oleh Fitrah atau al-Furqan maka yang terjadi adalah hidup “chaotic” (hidup yang kacau balau). Itulah yang kita saksikan dalam kehidupan ril dunia kita saat ini. Yang baik sering dianggap buruk. Sebaliknya yang buruk seringkali dianggap baik bagi kehidupan.
Ibarat orang yang sakit, rasa kemanusiaan manusia itu menjadi terbalik. Yang lezat menjadi tidak enak. Dan yang pahit terkadang menjadi enak di tenggorokan. Begitulah manusia yang fitrahnya tertimbung oleh berbagai hawa nafsu jahat. Mereka sedang sakit (hati) yang parah.
Transformasi spiritulitas juga dimaknai dengan terbangunnya koneksi intim (intimate connection) dengan Sang Khaliq. Terjadi koneksi ruhiyah yang kokoh. Dengan ibadah puasa yang sangat personal itu menjadikan seseorang terpaut dengan “Dia” yang mengendalikan segalanya dalam hidup ini.
Al-Qurbah (kedekatan) atau al-ma’iyah (kebersamaan) dengan Allah ini akan membangun energi positif yang luar biasa dalam hidup manusia. Di sìnilah orang-orang beriman akan memiliki motivasi hidup yang dahsyat yang takkan goyah oleh situasi dan keadaan bagaimanapun.
Di Tengah goncangan hidup saat ini, khususnya dengan Covid 19, manusia pastinya memerlukan pegangan hidup yang kokoh. Jika tidak maka manusia akan goyah dan terombang ambing oleh berbagai perubahan yang terjadi. Tanpa pegangan yang kuat, yang lebih dikenal dalam Al-Qur'an dengan "Al-Urwah Al-Wutsqa" manusia rentang mengalami goncangan hidup yang dahsyat.
Karenanya puasa menjadi benteng sekaligus motivasi hidup yang kokoh di tengah goncangan hidup yang semakin kencang tak terkendali.
(Bersambung)!
New York, 18 Mei 2021
Baca Juga: Puasa Adalah Sebuah Proses Perubahan
Ketika hidup manusia tidak lagi disinari oleh Fitrah atau al-Furqan maka yang terjadi adalah hidup “chaotic” (hidup yang kacau balau). Itulah yang kita saksikan dalam kehidupan ril dunia kita saat ini. Yang baik sering dianggap buruk. Sebaliknya yang buruk seringkali dianggap baik bagi kehidupan.
Ibarat orang yang sakit, rasa kemanusiaan manusia itu menjadi terbalik. Yang lezat menjadi tidak enak. Dan yang pahit terkadang menjadi enak di tenggorokan. Begitulah manusia yang fitrahnya tertimbung oleh berbagai hawa nafsu jahat. Mereka sedang sakit (hati) yang parah.
Transformasi spiritulitas juga dimaknai dengan terbangunnya koneksi intim (intimate connection) dengan Sang Khaliq. Terjadi koneksi ruhiyah yang kokoh. Dengan ibadah puasa yang sangat personal itu menjadikan seseorang terpaut dengan “Dia” yang mengendalikan segalanya dalam hidup ini.
Al-Qurbah (kedekatan) atau al-ma’iyah (kebersamaan) dengan Allah ini akan membangun energi positif yang luar biasa dalam hidup manusia. Di sìnilah orang-orang beriman akan memiliki motivasi hidup yang dahsyat yang takkan goyah oleh situasi dan keadaan bagaimanapun.
Di Tengah goncangan hidup saat ini, khususnya dengan Covid 19, manusia pastinya memerlukan pegangan hidup yang kokoh. Jika tidak maka manusia akan goyah dan terombang ambing oleh berbagai perubahan yang terjadi. Tanpa pegangan yang kuat, yang lebih dikenal dalam Al-Qur'an dengan "Al-Urwah Al-Wutsqa" manusia rentang mengalami goncangan hidup yang dahsyat.
Karenanya puasa menjadi benteng sekaligus motivasi hidup yang kokoh di tengah goncangan hidup yang semakin kencang tak terkendali.
(Bersambung)!
New York, 18 Mei 2021
Baca Juga: Puasa Adalah Sebuah Proses Perubahan
(rhs)
Lihat Juga :