Puasa dan Transformasi Hidup (2)

Jum'at, 21 Mei 2021 - 20:57 WIB
Sayangnya dalam perjalanan dan perputaran hidupnya manusia pada umumnya menjadi lupa akan hal yang sangat mendasar ini. Dalam menjalani hidupnya manusia kehilangan tujuan (arah) hidup. Mereka menjalani hidup tanpa menyadari untuk apa dan kemana dalam perjalanan hidup itu.

Kehidupan yang tidak memiliki tujuan atau arah yang jelas itulah yang pada akhirnya tidak membawa kemana-mana. Hidup yang bagaikan putaran rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Sehingga manusia yang tidak memiliki arah hidup yang jelas itu akan merasa bosan pada hidupnya. Karena dunai seluruhnya memang membosankan pada akhirnya.

Puasa dan Transformasi Visi Hidup

Di sinilah puasa hadir membawa transformasi visi hidup. Dengan puasa manusia disadarkan kembali bahwa hidup ini bukan sekadar perputaran waktu yang terasa hampa. Bukan juga sekadar mengejar dunia dengan mengakumulasi harta yang berlipat ganda.

Hidup manusia justru bertujuan untuk sesuatu yang lebih mulia dan bermakna. Bahwa manusia dihadirkan di atas bumi ini untuk memastikan dua bentuk "layanan" yang saling terkait. Layanan vertikal dan layanan horizontal. Keduanya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah.

Manusia dihadirkan di atas dunia ini untuk tujuan tunggal. Yaitu melakukan pengabdian kepada Pencipta langit dan bumi (li 'ibadatillah). Baik secara vertikal melalui ragam aktifitas ritual keagamaan. Maupun secara horizontal sebagai bentuk implementasi tugas kekhilafahannya.

Hiruk-pikuk dan ganasnya godaan dunia menjadikan manusia lupa akan visi atau tujuan hidup itu. Dan karenanya puasa dengan simbolisasi "abstaining" atau menahan diri dari dunia (makan, minum dan hubungan suami isteri) kembali mengingatkan manusia tentang visi hidup itu.

Saya menyimpulkan visi hidup manusia dalam Islam dengan istilah "Akhirat oriented life" (hidup yang berorientasi ukhrawi). Dengan kata lain, hidup dunia kita bukan untuk dunia. Tapi dunia untuk akhirat.

Maka transformasi visi hidup yang kita maksud melalui puasa adalah transformasi dari dunia untuk dunia menjadi "dunia untuk akhirat".

Pemahaman hidup seperti ini menjadikan manusia sadar untuk membangun dunianya di satu sisi. Namun, dunia yang terbangun itu menjadi jembatan untuk kehidupan ukhrawi yang membahagiakan pada sisi lain.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!