Benefit Oriented Life

Senin, 21 Juni 2021 - 22:51 WIB
Tapi dari semua aspek-aspek yang dianggap kelebihan itu, Islam kemudian menempatkan sebuah nilai (value) yang menembus semua aspek-aspek keduniaan itu. Nilai itulah yang disebut dengan "taqwa".

"Inna akromakum 'indallahi atqaakum (sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa". (Al-Hujurat: Ayat 13)

Ketakwaan itu menembus semua dinding-dinding keduniaan kita. Dinding fisikal (ganteng atau cantik). Dinding harta dan kepemilikan (kaya atau miskin). Dinding-dinding sosial (terkenal atau tidak dikenal, terhormat atau tidak dihormati). Demikian seterusnya, ketakwaanlah dalam pandangan Islam yang menjadi penentu semuanya.

Ketakwaan tentunya dipahami sebagaj tingkatan tertinggi dari religiositas seseorang. Ketakwaan itu mencakup sisi hidup beragama kita. Dari Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji, hingga ke layanan sosial baik kepada keluarga sendiri maupun kepada tetangga dan seluruh manusia.

Esensinya ketakwaan itu teraktualkan dalam pengabdian kita, baik secara vertikal (hablun minallah) maupun secara horizontal (hablun minannas). Inilah sesungguhnya yang ingin saya garisbawahi dengan istilah "benefit oriented". Bahwa hidup manusia bertakwa itu adalah hidup yang berorientasi kepada kemanfaatan (benefits).

Dengan hidupnya yang berorientasi kemanfaatan itu seseorang menjalani hidup ketakwaan. Dan dengan ketakwaan itu dia menjadi orang karim (noble atau mulia).

Realita itulah juga yang sesungguhnya tersimpulkan dalam hadits Rasulullah SAW: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat".

Karenanya mari hidup mulia ('isy karimah) dengan menabur manfaat di alam sekitar kita. Dengan kemanfataan itulah kemuliaan dan kehormatan akan diraih. Mungkin tidak di mata manusia. Tapi di mata Allah ('indallah). Semoga!

Subway NYC, 21 Juni 2021

Baca Juga: Puasa dan Transformasi Hidup (1)
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!