Bolehkah Berdebat dalam Perspektif Islam?
Jum'at, 02 Juli 2021 - 17:40 WIB
Islam melarang umatnya membuka pintu perdebatan karena dikhawatirkan dapat menyulut permusuhan. Jika terpaksa berdebat sampaikanlah dengan adab dan didasari ilmu pengetahuan. Foto/Ist
Kita sering mendapati banyak orang berdebat baik di acara formal ataupun di berbagai media sosial. Perdebatan biasanya dipicu oleh perbedaan pendapat dan pandangan. Bagaimana Islam menyikapi debat, bolehkah?
Mari kita lihat beberapa Hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ [رواه المسلم]
Dari 'Aisyah berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling Allah benci adalah orang yang suka membantah lagi sengit." (HR. Muslim No 2668)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga." (Shohih at-Targib wat Tarhib, Jilid 1)
Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa debat yang tidak didasari ilmu dan hujjah sangat dilarang oleh syariat.
Ustaz Ahmad Sarwat dalam satu tausiyahnya menyebutkan, para ulama di masa lalu meski yakin dengan teori yang disampaikannya, mereka tidak pernah merasa paling benar dalam segala hal. Mereka tetap menghormati ulama lain sebagai orang yang juga ahli dalam bidangnya.
Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia itu menceritakan kisah ulama terdahulu. Diceritakan, Imam Malik pernah berdebat sebuah masalah dengan Al-Laits Ibn Sa'ad, tetapi mereka selalu saling mengirimkan hadiah.
Mari kita lihat beberapa Hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ [رواه المسلم]
Dari 'Aisyah berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling Allah benci adalah orang yang suka membantah lagi sengit." (HR. Muslim No 2668)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga." (Shohih at-Targib wat Tarhib, Jilid 1)
Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa debat yang tidak didasari ilmu dan hujjah sangat dilarang oleh syariat.
Ustaz Ahmad Sarwat dalam satu tausiyahnya menyebutkan, para ulama di masa lalu meski yakin dengan teori yang disampaikannya, mereka tidak pernah merasa paling benar dalam segala hal. Mereka tetap menghormati ulama lain sebagai orang yang juga ahli dalam bidangnya.
Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia itu menceritakan kisah ulama terdahulu. Diceritakan, Imam Malik pernah berdebat sebuah masalah dengan Al-Laits Ibn Sa'ad, tetapi mereka selalu saling mengirimkan hadiah.
Lihat Juga :