Hubungan Turki Utsmani dengan Nusantara, Meriam Lada Sichupa' Jadi Saksi

Jum'at, 16 Juli 2021 - 19:56 WIB
Pada tahun 1539 dilaporkan bahwa sekitar 300 tentara Turki telah berada di Aceh dan membantu kerajaan itu dalam konfliknya dengan kerajaan Batak (Pinto, 1897: 31-32).

Menurut Goksoy (2007: 4), pasukan Turki ini mungkin merupakan pecahan dari pasukan Turki yang tidak berhasil dalam upaya mengusir Portugis dari Diu, Gujarat.

Aceh sendiri telah terlibat dalam perdagangan lada di Samudera Hindia pada tahun-tahun tersebut dan mulai terganggu dengan kehadiran Portugis di kawasan itu yang kemudian membawa keduanya saling berhadapan (Boxer, 1969: 416-417).

Dalam konfliknya dengan Portugis dan kerajaan-kerajaan di perbatasan, Aceh memilih untuk menjalin hubungan lebih serius dengan Kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun-tahun berikutnya.

Snouck Hurgronje (1906: 208-2010) di dalam bukunya The Achehnese mengutip satu cerita populer – sebuah legenda sejarah, menurutnya – tentang asal usul nama meriam terkenal di Aceh, yaitu “Lada Sichupa’” (Lada secupak). Menurut cerita tersebut, pada abad ke-16 saat kerajaan Aceh semakin kuat, sultan Aceh memutuskan untuk mengirim utusan ke Istanbul.

Rombongan dari Aceh pergi dengan kapal-kapal yang dipenuhi lada, yang merupakan hasil utama kerajaan itu. Namun sampai di Istanbul mereka tak dapat langsung menemui Sultan Turki Utsmani disebabkan tak ada yang mengenal kerajaan mereka. Mereka berdiam di kota itu selama satu atau dua tahun dan terpaksa menjual sebagian besar lada mereka untuk hidup di negeri itu.

Akhirnya mereka dapat bertemu Sultan Turki dan mempersembahkan lada yang hanya tinggal secupak, tetapi diterima dengan senang hati oleh Sultan. Sebagai balasan, Sultan Turki menghadiahkan sebuah meriam besar untuk Aceh yang kemudian diberi nama Lada Sichupa.

Baca juga: Harga yang Harus Dibayar Sultan Abdul Hamid II Menolak Keinginan Yahudi

Sultan Turki juga memperkenankan permintaan mereka untuk mengirimkan sejumlah tenaga ahli untuk ikut bersama mereka ke Aceh. Sebagian dari tenaga ahli ini berasal dari Suriah yang kemudian tinggal di kampung Bitay di Aceh. Nama Bitay sendiri dikatakan sebagai sebutan Aceh untuk perkataan Betal yang merupakan kependekan dari Betal Maqdis atau Bayt al-Maqdis, yang tampaknya menunjukkan asal-usul para utusan Turki itu.

Sultan Turki juga menerima Aceh sebagai negara bawahannya. Namun karena jarak yang sangat jauh dan kesulitan untuk mengirimkan upeti tahunan, maka sebagai gantinya masyarakat Aceh diminta untuk merayakan Maulid Nabi.

“Maka hendaknya tidak ada satu kampung pun di Aceh yang penduduknya tidak merayakan Maulid (Mo’lot); itulah upeti kalian kepada pemimpin orang-orang beriman,” titah Sultan Turki. Maka sejak itu Maulud Nabi dirayakan dengan sungguh-sungguh setiap tahunnya di Aceh.

Alwi Alatas, Penulis pengajar di International Islamic University Malaysia (IIUM), dalam tulisannya menegaskan cerita di atas bukannya tanpa dasar dan di Aceh sendiri inti dari kisah itu tak hanya diwakili oleh sejarah lisan.

Nuruddin al-Raniri di dalam Bustan al-Salatin, sebagaimana dikutip oleh Ermy Azziaty Rozali (2014: 95), menyebutkan bahwa Sultan Alauddin Ri’ayat Shah dari Aceh pernah mengirim utusan kepada Sultan Rum di Istanbul guna “meneguhkan agama Islam”.

Sultan Rum lantas mengirim orang-orang “yang tahu menuang bedil” yang memungkinkan Aceh untuk membuat meriam-meriam yang besar dan menggunakannya untuk menyerang Melaka, yang ketika itu berada di bawah kendali Portugis.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!