Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Kamis, 19 Agustus 2021 - 15:04 WIB
KH Hasyim Asy'ari lahir di Jombang pada tahun 1871 M. Sama halnya dengan KH Ahmad Dahlan, Kiyai Hasyim juga dibesarkan di lingkungan agama. Ayah KH Asy'ari memiliki pondok pesantren di Jombang. Sejak usia 13 tahun, ia dipercaya ayahnya untuk menggantikan jadwal mengajar sang ayah, karena sudah menguasai kitab-kitab islam klasik (kitab kuning).
Awal Mula Kiyai Asy'ari Bertemu Kiyai Dahlan
Di usianya yang ke-15 tahun, ia mulai mengembara ke berbagai pesantren di Jawa untuk memperdalam ilmu agama seperti di Pesantren Wonocolo Jombang, Probolinggo, Pondok Langitan, Trenggilis, dan di Pesantren Kiyai Kholil Bangkalan, Madura. Di sinilah ia awal mula bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, keduanya belajar bersama di bawah asuhan Kiyai Kholil Bangkalan.
Sampai pada akhirnya, empat dari murid Kiyai Kholil tamat dari pendidikan keagamaan di Bangkalan, mereka diperintahkan untuk berguru ke Jombang dan Semarang.KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari mendapat perintah untuk berguru kepada Kiyai Sholeh Darat di Semarang. Kiyai Sholeh Darat merupakan ulama tersohor di pesisir utara Jawa kala itu. Bahkan keluarga RA Kartini juga belajar agama kepada Kiyai Sholeh Darat.
Kedua remaja itu sangat menikmati nuansa pendidikan dari Kiyai Sholeh. Adi Hasyim, begitulah panggilan akrab KH Ahmad Dahlan untuk Kiyai Hasyim. Sebaliknya Kiai Hasyim juga memanggil KH Ahmad Dahlan dengan panggilan akrab Mas Darwis. Konon, keduanya juga tinggal sekamar.
Selama kurang lebih dua tahun kedua santri ini mengabdi dan belajar agama pada Kiyai Sholeh Darat dan Darwis mendapat nama yang sampai sekarang dikenal semua orang yaitu Ahmad Dahlan. KH Ahmad Dahlan lebih dahulu meninggalkan pesantren di Semarang dan kembali ke Yogyakarta, sebelum pada akhirnya mereka berdua juga bertemu pada guru yang sama saat menimba ilmu di Arab Saudi.
Setibanya di Makkah inilah yang membuat keduanya mempunyai kecenderungan yang berbeda. Kiyai Hasyim Asy'ari sangat menyukai ilmu hadis dan KH Ahmad Dahlan lebih tertarik pada pemikiran dan gerakan Islam.
Karena keahliannya dalam hadist membuat gurunya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi memberikan gelar Hadratussyekh kepada Kiyai Hasyim. Sampai pada akhirnya keduanya sama-sama boyong (istilah pulang/tamat dari pondok) dan kembali ke asal masing-masing untuk mengabdi pada tanah air.
Dua orang besar inilah yang memberi ornamen baru untuk kemajuan Islam di Indonesia. Dengan semangat pergerakan islamnya KH Ahmad Dahlan, giat mendirikan lembaga pendidikan Islam yang formal dengan mengadaptasi pada sistem sekolah kolonial. Anak-anak muda Indonesia tidak hanya belajar agama saja, tetapi juga mampu memahami ilmu alam.
Tidak mengherankan jika saat ini kita banyak menemukan sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit yang maju milik Muhammadiyah, buah kegigihan dalam berideologi sang pendirinya. Sosok Kiyai Dahlan memang terkenal sedikit bicara, banyak bekerja. Dalam upaya menjawab persoalan ummat, ia bersama dengan orang-orang disekitarnya mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah yang kemudian hari ini menjadi salah satu ormas besar di Indonesia.
Awal Mula Kiyai Asy'ari Bertemu Kiyai Dahlan
Di usianya yang ke-15 tahun, ia mulai mengembara ke berbagai pesantren di Jawa untuk memperdalam ilmu agama seperti di Pesantren Wonocolo Jombang, Probolinggo, Pondok Langitan, Trenggilis, dan di Pesantren Kiyai Kholil Bangkalan, Madura. Di sinilah ia awal mula bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, keduanya belajar bersama di bawah asuhan Kiyai Kholil Bangkalan.
Sampai pada akhirnya, empat dari murid Kiyai Kholil tamat dari pendidikan keagamaan di Bangkalan, mereka diperintahkan untuk berguru ke Jombang dan Semarang.KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari mendapat perintah untuk berguru kepada Kiyai Sholeh Darat di Semarang. Kiyai Sholeh Darat merupakan ulama tersohor di pesisir utara Jawa kala itu. Bahkan keluarga RA Kartini juga belajar agama kepada Kiyai Sholeh Darat.
Kedua remaja itu sangat menikmati nuansa pendidikan dari Kiyai Sholeh. Adi Hasyim, begitulah panggilan akrab KH Ahmad Dahlan untuk Kiyai Hasyim. Sebaliknya Kiai Hasyim juga memanggil KH Ahmad Dahlan dengan panggilan akrab Mas Darwis. Konon, keduanya juga tinggal sekamar.
Selama kurang lebih dua tahun kedua santri ini mengabdi dan belajar agama pada Kiyai Sholeh Darat dan Darwis mendapat nama yang sampai sekarang dikenal semua orang yaitu Ahmad Dahlan. KH Ahmad Dahlan lebih dahulu meninggalkan pesantren di Semarang dan kembali ke Yogyakarta, sebelum pada akhirnya mereka berdua juga bertemu pada guru yang sama saat menimba ilmu di Arab Saudi.
Setibanya di Makkah inilah yang membuat keduanya mempunyai kecenderungan yang berbeda. Kiyai Hasyim Asy'ari sangat menyukai ilmu hadis dan KH Ahmad Dahlan lebih tertarik pada pemikiran dan gerakan Islam.
Karena keahliannya dalam hadist membuat gurunya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi memberikan gelar Hadratussyekh kepada Kiyai Hasyim. Sampai pada akhirnya keduanya sama-sama boyong (istilah pulang/tamat dari pondok) dan kembali ke asal masing-masing untuk mengabdi pada tanah air.
Dua orang besar inilah yang memberi ornamen baru untuk kemajuan Islam di Indonesia. Dengan semangat pergerakan islamnya KH Ahmad Dahlan, giat mendirikan lembaga pendidikan Islam yang formal dengan mengadaptasi pada sistem sekolah kolonial. Anak-anak muda Indonesia tidak hanya belajar agama saja, tetapi juga mampu memahami ilmu alam.
Tidak mengherankan jika saat ini kita banyak menemukan sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit yang maju milik Muhammadiyah, buah kegigihan dalam berideologi sang pendirinya. Sosok Kiyai Dahlan memang terkenal sedikit bicara, banyak bekerja. Dalam upaya menjawab persoalan ummat, ia bersama dengan orang-orang disekitarnya mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah yang kemudian hari ini menjadi salah satu ormas besar di Indonesia.
Lihat Juga :