Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru

Kamis, 19 Agustus 2021 - 15:04 WIB
Sedangkan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari memang ditugaskan untuk mendirikan Pesantren di Tebuireng, Jombang dan memilih untuk fokus pada kajian salafiyah, kitab-kitab kuning. Santri-santrinya banyak yang berdatangan untuk menimba ilmu. Cita-cita mendirikan jamiyah ulama sangat direspons baik oleh KH Wahab Hasbullah untuk membuat wadah atau organisasi Islam yang moderat dan berasas pada Ahlussunnah wal Jamaah.

Kemudian dibentuklah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bentuk asosiasi ulama-ulama salafi. Perjalanan keduanya memang sedikit berbeda. KH Ahmad Dahlan cenderung memilih jalur politik dalam mengembangkan gerakan Islamiyah di Yogyakarta. Sedangkan Kiyai Hasyim lebih memilih membesarkan pondok pesantrennya dengan kajian klasik.

Sampai pada suatu saat sang Hadratussyekh menerima sebuah kabar dari santrinya: "Kiyai, ada gerakan yang ingin memurnikan agama, dan membuat badan amal perserikatan di Yogyakarta."

Jawaban Hadratusyekh sangat singkat dan santai. "Oh, itu Mas Darwis. Ayo kita dukung." NU dan Muhammadiyah adalah bentuk modernisasi Islam Nusantara.

Asas kedua organisasi besar inilah yang kemudian menumbuhkan agama Islam di Indonesia sebagai agama yang moderat, toleran, dan progresif. Keduanya memiliki ideologi dan cara pandang Islam berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama-sama ingin mencapai tujuan yang satu, yaitu ridha Allah, dan Islam yang Islam yang rahmatan lil 'alamiin.

Baca Juga: Kiai Hasyim Memanggil Kiai Dahlan dengan Panggilan Mas...
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!