Membandingkan Karamah Habib al-Ajami dan Pengetahuan Imam Hasan Al-Basri

Jum'at, 15 Oktober 2021 - 13:38 WIB
Karamah hanya membutuhkan tingkat kesalehan lebih lanjut, tetapi tidak halnya dalam pengetahuan, ia membutuhkan perenungan yang jauh lebih mendalam. (Ilusrasi :Ist)
Habib al-Ajami (dari kata Ajam, yang artinya adalah orang non-Arab) adalah seorang rentenir. Pada kesehariannya dalam menagih piutang. Dia biasanya akan membebankan denda apabila ada yang tidak sanggup membayar tepat waktu.

Suatu hari ketika sedang menagih, seorang istri dari yang berutang, karena tidak punya uang, memberinya daging.

Habib kemudian pulang, sampai di rumah istrinya memberitahu bahwa dia tidak memiliki bahan bakar maupun roti untuk makan.

Pada kesempatan lain, setelah melakukan aktivitas penagihan, dalam perjalanan pulang Habib bertemu seorang pengemis yang meminta-minta kepadanya. Karena tidak suka, Habib kemudian menamparnya tanpa perasaan.

Sesampainya di rumah, istrinya memberitahu bahwa makanan yang telah dipersiapkannya entah mengapa berubah menjadi darah.

Dengan serangkaian peristiwa tersebut, Habib akhirnya menyesal, dan dia memutuskan untuk tidak lagi menjadi seorang rentenir.

Pada hari Jumat, dia pergi untuk sholat Jumat, dan di sana dia mendengarkan khotbah Hasan al-Basri. Di tengah khotbah, Habib jatuh pingsan. Setelah sadar dia membuat sebuah pengumuman, dia menyatakan akan menghapuskan semua utang dan akan mengembalikan semua keuntungan dari riba yang dia peroleh dari para pengutang.

Beberapa tahun setelah Habib memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktunya untuk belajar kepada Hasan al-Basri , istrinya sakit parah.

Setiap malam ketika dia pulang, dia tidak membawa uang sepeser pun. Setelah berlangsung sepuluh hari, tiba-tiba seseorang datang ke rumahnya dan memberinya banyak makanan dan kebutuhan rumah tangga. Habib sangat keheranan, dan setelahnya dia mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk Allah SWT, Sang Maha Pengasih.



Setelah menjadi murid Imam Hasan Al-Basri, suatu hari Habib bertemu gurunya di tepi Sungai Tigris dan bertanya kepadanya mengapa dia berada di sana. Hasan menjawab bahwa dia sedang menunggu perahu.

Habib kemudian teringat akan sebuah pelajaran dari Hasan: jika dia benar-benar meninggalkan dunia dan bergantung kepada Allah, maka dia dapat berjalan di atas air. Habib kemudian melakukannya, berjalan di atas air. Melihat hal itu Hasan jatuh pingsan.

Setelah sadar, Hasan memberitahu teman-temannya bahwa Habib memiliki karamah berjalan di atas air. Namun Hasan mengatakan bahwa kemampuan Habib, sebagian besar berkat dirinya, karena Habib merupakan muridnya.

Farid al-Din Attar dalam buku berjudul Kisah para Wali berkisah, pada suatu hari Hasan bertemu Habib, dan dia bertanya bagaimana Habib dapat mencapai tingkatan spiritual seperti itu.

Habib berkata, “Dengan memutihkan hatiku, sementara engkau menghitamkan kertas.”

Hasan kemudian menjawab, “Pengetahuanku tidak memberi manfaat kepada diriku sendiri, tetapi memberi manfaat kepada orang lain.”



Menyimak kisah di atas, sepintas Habib terlihat telah melampaui Hasan. Namun tidak demikian menurut Farid al-Din Attar. Habib tetap masih di bawah Hasan. Dia menjelaskan bahwa karamah nilainya masih di bawah pengetahuan.

Karamah hanya membutuhkan tingkat kesalehan lebih lanjut, tetapi tidak halnya dalam pengetahuan, ia membutuhkan perenungan yang jauh lebih mendalam.

Attar menekankan bahwa pengetahuan Hasan begitu tinggi sehingga dia diumpamakan seperti hubungan Nabi Musa terhadap Nabi Sulaiman. Sulaiman memang memiliki banyak mukjizat, tetapi Musa, dengan pengetahuannya mampu melakukan sesuatu yang lebih besar ketimbang dari sekadar mukjizat.

(mhy)
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur Ayat 31)
cover bottom ayah
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More