Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh

Minggu, 21 November 2021 - 14:06 WIB
Kisah ini, dikenal dalam tradisi-tradisi lain selain dalam naskah sufi dan telah dipakai untuk menjelaskan kemungkinan adanya suatu perbedaan keadaan kesadaran dalam diri manusia. (Ilustrasi : Ist)
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" berkisah, konon, ada seorang raja yang berpikir bahwa semua pengetahuan dan keyakinannya adalah benar tanpa salah. Dalam banyak hal ia menunjukkan dirinya adil, tetapi ia juga seorang yang terbatas pikirannya.

Baca juga: Kisah Sufi Sang Raja dan Anak Miskin

Suatu hari berkatalah raja kepada ketiga putrinya:

"Segala milikku adalah milik kalian juga, atau akan jadi milik kalian. Dari aku, kalian memperoleh kemakmuran. Akulah yang menentukan masa depan kalian, dan pada gilirannya nasib kalian."

Dua dari tiga putri itu patuh dan setuju saja akan ucapan raja mereka.

Tetapi, putri ketiga berkata:

"Betapa pun situasi menuntutku untuk selalu taat pada hukum, ananda tidak bisa menerima bahwa nasib ananda harus senantiasa ditentukan oleh kehendak Yang Mulia Raja".

"Begitukah? Mari kita lihat saja," kata sang raja.

Raja mengurungnya dalam sebuah sel sempit, dan putri itu merana di sana selama bertahun-tahun. Sementara itu, sang raja dan kedua putrinya yang patuh menghambur-hamburkan bagian kekayaan yang dulunya diperuntukkan bagi putri ketiga itu.

Raja berkata kepada dirinya sendiri :

"Anak ini dipenjara bukan atas kehendaknya, melainkan kehendakku. Itu buktinya bahwa nasibnya diatur oleh kemauanku, bukan kemauannya."

Penduduk negeri itu, begitu mendengar keadaan putri raja yang dipenjara, berkata satu kepada yang lain:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!