Surat Yasin Ayat 28-29: Satu Teriakan Menghabisi Penduduk Antokiah
Jum'at, 03 Desember 2021 - 19:07 WIB
Sebagai akibat perbuatan itu, mereka ditimpa azab berupa suatu teriakan yang seketika membinasakan mereka. Allah SWT tidak hendak mengazab mereka dengan mengirimkan pasukan dari langit. Demikian penjelasannya menurut Wahbah az-Zuhaili.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 18-19: Ketika Kaum Antokiah Anggap Rasul Membawa Sial
Menurunkan pasukan dari langit hanya untuk membinasakan mereka memang tidak perlu dan tidak layak dilakukan oleh Allah Swt. Penurunan pasukan dari langit merupakan perkara besar, sementara manusia-manusia durhaka tersebut sangatlah hina dan kecil di hadapan Allah Swt.
Begitu pula kata jundun (pasukan) di sini yang diutarakan dalam bentuk mufrad (tunggal), bukan junud (pasukan-pasukan) sebagaimana biasanya.
Ibnu Katsir menjelaskan hal tersebut berdasarkan riwayat dari Ibn Mas’ud, bahwa gaya bahasa ini bermaksud menyepelekan kaum Antokiah, bahwa perkara mereka sangatlah remeh bagi Allah SWT.
Mengenai penafsiran kata jundun sendiri setidaknya ada dua pendapat. Pendapat pertama, jundun bermakna utusan lain yang membawa risalah baru. Ini pandangan dari Mujahid dan Qatadah sebagaimana yang dikutip dalam Tafsir Ibn Kasir. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa jundun adalah pasukan yang terdiri dari para malaikat yang dikirim dari langit.
At-Thabari dan mayoritas ulama lebih condong pada makna kedua ini. Sebab menurutnya utusan atau risalah tidak pernah disebut sebagai pasukan langit. Para nabi dan rasul adalah manusia pada umumnya yang berasal dari bumi, sementara yang berasal dari langit adalah malaikat dan sejenisnya.
Mengenai hal ini, Nawawi al-Bantani mengaitkannya dengan pengutusan rombongan tentara malaikat dalam peperangan Nabi SAW. Bahwa dalam membinasakan kaum-kaum durhaka terdahulu, Allah SWT tidak menurunkan malaikat, melainkan cukup dengan bencana alam seperti banjir, gempa, angin topan dan teriakan keras. Adapun mengirimkan rombongan tentara malaikat demi kemenangan Nabi Muhammad Saw merupakan sebuah penghormatan pada beliau.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 23-25: Akhir Indah, Pemuda Mukmin
Adapun kata saihah wahidah pada ayat kedua menurut Ibn ‘Asyur, hanya perlu sekali teriakan saja bagi Allah SWT untuk membinasakan mereka, tidak lebih.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 18-19: Ketika Kaum Antokiah Anggap Rasul Membawa Sial
Menurunkan pasukan dari langit hanya untuk membinasakan mereka memang tidak perlu dan tidak layak dilakukan oleh Allah Swt. Penurunan pasukan dari langit merupakan perkara besar, sementara manusia-manusia durhaka tersebut sangatlah hina dan kecil di hadapan Allah Swt.
Begitu pula kata jundun (pasukan) di sini yang diutarakan dalam bentuk mufrad (tunggal), bukan junud (pasukan-pasukan) sebagaimana biasanya.
Ibnu Katsir menjelaskan hal tersebut berdasarkan riwayat dari Ibn Mas’ud, bahwa gaya bahasa ini bermaksud menyepelekan kaum Antokiah, bahwa perkara mereka sangatlah remeh bagi Allah SWT.
Mengenai penafsiran kata jundun sendiri setidaknya ada dua pendapat. Pendapat pertama, jundun bermakna utusan lain yang membawa risalah baru. Ini pandangan dari Mujahid dan Qatadah sebagaimana yang dikutip dalam Tafsir Ibn Kasir. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa jundun adalah pasukan yang terdiri dari para malaikat yang dikirim dari langit.
At-Thabari dan mayoritas ulama lebih condong pada makna kedua ini. Sebab menurutnya utusan atau risalah tidak pernah disebut sebagai pasukan langit. Para nabi dan rasul adalah manusia pada umumnya yang berasal dari bumi, sementara yang berasal dari langit adalah malaikat dan sejenisnya.
Mengenai hal ini, Nawawi al-Bantani mengaitkannya dengan pengutusan rombongan tentara malaikat dalam peperangan Nabi SAW. Bahwa dalam membinasakan kaum-kaum durhaka terdahulu, Allah SWT tidak menurunkan malaikat, melainkan cukup dengan bencana alam seperti banjir, gempa, angin topan dan teriakan keras. Adapun mengirimkan rombongan tentara malaikat demi kemenangan Nabi Muhammad Saw merupakan sebuah penghormatan pada beliau.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 23-25: Akhir Indah, Pemuda Mukmin
Adapun kata saihah wahidah pada ayat kedua menurut Ibn ‘Asyur, hanya perlu sekali teriakan saja bagi Allah SWT untuk membinasakan mereka, tidak lebih.
Lihat Juga :