Muawiyah Menangis Mendengar Kesaksian Dhirar bin Dhamrah tentang Ali bin Abi Thalib
Minggu, 19 Desember 2021 - 07:16 WIB
Dia, demi Allah, seperti kita yang merasa takut jika ditanya tentang agama, dia yang memulai bicara jika kita mendatanginya, dia juga yang mendatangi kita jika kita undang dia.
Dan kami, demi Allah, meskipun dia dekat dengan kami dan kami dekat dengan dia namun kami tidak berbicara dengannya karena kewibawaannya, dan kami juga tidak mulai berbicara denganya karena keagungannya. Jika dia tersenyum, maka senyumnya laksana mutiara yang tersusun rapi.
Dia memuliakan orang yang beragama dengan baik, senang terhadap orang-orang miskin. Orang yang kuat tidak berani berbuat kebatilan, dan orang yang lemah tidak merasa putus asa dari mendapatkan keadilannya.
Saya bersaksi kepada Allah, saya pernah melihatnya dalam beberapa kesempatan. Saat malam hari sudah tiba, bintang gemintang sudah menghiasi langit, dia berdiri di mihrabnya sambil memegang janggutnya, dia terlihat berdiri tegak, namun dengan menangis sangat sedih, seakan-akan saya mendengarnya saat dia berkata, “Dunia, dunia, apakah engkau ingin datang kepadaku? Apa engkau ingin menggodaku?"
Jauh sekali kemungkinan itu, tipulah orang selainku, karena saya telah menalakmu tiga kali sehingga tidak ada rujuk lagi, umurmu pendek, kehidupanmu hina, sementara bahayamu besar. Ah, sangat sedikit bekalku sementara sangat jauh perjalananku, dan sangat berbahaya jalan yang mesti dilalui.
Baca juga: Jalaluddin Rumi Bicara tentang Kebaikan Ali bin Abu Thalib kepada Pembunuhnya
Mendengar itu, maka melelehlah air mata Muawiyah sehingga jatuh ke jenggotnya. Dia pun menghapus air mata itu dengan lengan bajunya. Orang-orang pun menangis.
Kemudian Muawiyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abul Hasan Ali bin Abi Thalib, dia demi Allah adalah seperti yang diceritakan. Bagaimana kesedihanmu terhadapnya, wahai Dhirar?”
Dhirar menjawab, “Kesedihanku sebagaimana orangtua yang anaknya disembelih di kamar pribadinya, yang kenangannya tidak pernah hilang, dan kesedihannya tidak pernah lenyap.”
Baca juga: Keluhan Khalifah Utsman bin Affan dan Kritik Pedas Ali bin Abu Thalib
Dan kami, demi Allah, meskipun dia dekat dengan kami dan kami dekat dengan dia namun kami tidak berbicara dengannya karena kewibawaannya, dan kami juga tidak mulai berbicara denganya karena keagungannya. Jika dia tersenyum, maka senyumnya laksana mutiara yang tersusun rapi.
Dia memuliakan orang yang beragama dengan baik, senang terhadap orang-orang miskin. Orang yang kuat tidak berani berbuat kebatilan, dan orang yang lemah tidak merasa putus asa dari mendapatkan keadilannya.
Saya bersaksi kepada Allah, saya pernah melihatnya dalam beberapa kesempatan. Saat malam hari sudah tiba, bintang gemintang sudah menghiasi langit, dia berdiri di mihrabnya sambil memegang janggutnya, dia terlihat berdiri tegak, namun dengan menangis sangat sedih, seakan-akan saya mendengarnya saat dia berkata, “Dunia, dunia, apakah engkau ingin datang kepadaku? Apa engkau ingin menggodaku?"
Jauh sekali kemungkinan itu, tipulah orang selainku, karena saya telah menalakmu tiga kali sehingga tidak ada rujuk lagi, umurmu pendek, kehidupanmu hina, sementara bahayamu besar. Ah, sangat sedikit bekalku sementara sangat jauh perjalananku, dan sangat berbahaya jalan yang mesti dilalui.
Baca juga: Jalaluddin Rumi Bicara tentang Kebaikan Ali bin Abu Thalib kepada Pembunuhnya
Mendengar itu, maka melelehlah air mata Muawiyah sehingga jatuh ke jenggotnya. Dia pun menghapus air mata itu dengan lengan bajunya. Orang-orang pun menangis.
Kemudian Muawiyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abul Hasan Ali bin Abi Thalib, dia demi Allah adalah seperti yang diceritakan. Bagaimana kesedihanmu terhadapnya, wahai Dhirar?”
Dhirar menjawab, “Kesedihanku sebagaimana orangtua yang anaknya disembelih di kamar pribadinya, yang kenangannya tidak pernah hilang, dan kesedihannya tidak pernah lenyap.”
Baca juga: Keluhan Khalifah Utsman bin Affan dan Kritik Pedas Ali bin Abu Thalib
(mhy)
Lihat Juga :