Surat Yasin Ayat 39-40: Ayat-Ayat Sains tentang Perputaran Bulan dan Matahari

Kamis, 30 Desember 2021 - 14:01 WIB
Istilah “al-manazil” oleh bangsa Arab adalah tempat turunnya bintang, dan menurut Zamaksyari, Qurthubi, serta beberapa mufassir lain, menyebut ada 28 al-manazil, yaitu:

Syaratan, Butayn, Tsurya, Dabaran, Haq’ah, Han’ah, Dzira’, Tsanrah, Tarf, Jabhah, Kharatan, Sarfah, ‘Awwa’, Samak, Ghafr, Zubanayan, Iklil, Qalb, Syawlah, Na’a’im, Baldah, Sa’d al-Zabh, Sa’d Bula’, Sa’d Su’ud, Sa’d al-Akhbiyah, Farghr al-Mutaqaddam, Farghr al-Mu’akhkhar, dan Batn al-Haut.

Apabila semuanya sudah dilalui hingga akhir, maka akan kembali ke awal, dan setiap hitungan 2-3 manazil juga akan terjadi gugusan bintang. Ratusan bintang akan berpendar indah menghiasi malam-malam bersama bulan.

Terhitung pada manazil ke-28, akan ada peristiwa terputusnya orbit, yang memunculkan hilal. Bulan akan meredup, menua, bagai tandan tua termakan masa (kal ‘urjunil qadim) hingga lenyap, lalu lahir kembali menunaikan tugasnya.

Baca juga: Surat Yasin Ayat 37: Siang dan Malam Sebagai Tanda Kekuasaan Allah SWT

Begitupun manusia. Perjalanannya mirip seperti bulan, ia beranjak tumbuh sedikit-demi sedikit, dari bayi, terlentang, merangkak, berjalan menjadi anak-anak, tumbuh sebagai remaja, hingga dewasa. Ketika tua, kekuatannya akan menurun, membungkuk, semakin lemah, hingga lelap, dan menutup usia.

Matahari dan bulan adalah dua makhluk ciptaan Allah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut Qurthubi, keduanya tercipta dari api, yang kemudian dibungkus oleh cahaya. Matahari dibungkus oleh cahaya ‘Ars, sedangkan bulan dibungkus dari cahaya Kursiy.

Keduanya beredar sesuai ketentuan, Mujahid berkata, “Keduanya memiliki batasan yang telah ditentukan, tidak mungkin mendahului atau membelakangi, apabila penguasa siang (matahari) datang, maka penguasa malam (bulan) hilang, begitupun sebaliknya”

Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menambahi, bahwa kata yanbaghi (يَنْبَغِيْ) mulanya bemakna “meminta sesuatu lalu memperolehnya”, proses ini kemudian melahirkan makna baru, yaitu “dapat/mampu”. Sehingga konteks ayat ini bisa dimaknai dengan ketidakmampuan bulan dan matahari untuk saling mendahului.

Menariknya, Zuhaili dalam tafsir Al-Munir mengumpamakan tata surya sebagai lautan dan matahari, bulan, dan bumi sedang berenang di dalamnya. Karena itu pula redaksi akhir ayat 40 menggunakan kata يَسْبَحُوْن (yasbahun) yang berarti berenang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!