Tradisi Aqiqah Sudah Dilakukan pada Zaman Arab Jahiliyah
Kamis, 06 Januari 2022 - 11:26 WIB
Tradisi aqiqah untuk menyambut kelahiran bayi dengan memotong kambing, juga dilakukan orang-orang Arab pada pra-Islam. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Tradisi aqiqah dalam Islam sejatinya sudah dilakukan juga pada Arab Jahiliyah. Ibadah yang diperuntukkan bagi manusia yang baru lahir ke dunia ini biasanya dilakukan tujuh hari setelah kelahiran.
Bila merujuk pada bahasa Arab, aqiqah memiliki arti yaitu memutus dan melubangi. Dalam pengertian secara umum, aqiqah adalah aktivitas ibadah menyembelih hewan berupa kambing sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya seorang anak.
Baca juga: Rayyanza Malik Ahmad Aqiqah, Raffi dan Nagita Borong Kambing
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya berjudul "Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam" menyebutkan orang Arab pra-Islam memiliki tradisi menyambut kehadiran sang bayi dengan menyembelih kambing dan mengolesi kepala si bayi dengan darah sembelihan itu. Binatang sembelihan ini disebut aqiqah.
Menurut dia, arti kata 'aqiqah yakni rambut yang tumbuh di kepala bayi semasa dalam kandungan ibunya. Kata ini lalu digunakan untuk menunjuk binatang yang disembelih kala memperingati pencukuran rambut tersebut.
Pada masa pra-Islam, selain mengolesi kepala bayi dengan darah sembelihan, mulut si bayi juga diolesi kurma kunyahan atau madu lebah dan melumuri badannya dengan garam atau sesuatu yang manis. "Rasa manis dianggap sebagai simbol kebahagiaan, sementara garam merupakan unsur penting dalam hidup dan simbol kepatuhan memenuhi janji," jelasnya.
Selain aqiqah, Abdul Aziz mengatakan, bagi anak laki-laki, mereka harus mengikuti tradisi khitan sebagai wujud persembahan darah kepada tuhan, sebagaimana memotong atau mencukur rambut sebagai wujud persembahan pendekatan diri kepada tuhan. Jika seorang anak laki-laki tidak khitan, ia akan diejek sebagai al-aghlaf (manusia tumpul) atau al-a'zal (manusia tak bersenjata).
Baca juga: Arab Pra-Islam: Sudah Ada yang Mempraktikkan Ibadah Mirip Muslim
Aqiqah dalam Islam
Sementara itu, Mohammad Irsyad dalam bukunya berjudul "105 Inspirasi Nabi dalam Mendidik Anak" menjelaskan di dalam Islam, aqiqah dilakukan sebagai bentuk penghormatan kelahiran bayi ke dunia serta wujud syukur, ini juga merupakan bentuk perubahan pesta (walimah) yang dahulu biasa dilakukan orang-orang jahiliyah dalam menyambut kelahiran bayi. "Aqiqah biasanya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran si anak," katanya.
Bila merujuk pada bahasa Arab, aqiqah memiliki arti yaitu memutus dan melubangi. Dalam pengertian secara umum, aqiqah adalah aktivitas ibadah menyembelih hewan berupa kambing sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya seorang anak.
Baca juga: Rayyanza Malik Ahmad Aqiqah, Raffi dan Nagita Borong Kambing
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya berjudul "Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam" menyebutkan orang Arab pra-Islam memiliki tradisi menyambut kehadiran sang bayi dengan menyembelih kambing dan mengolesi kepala si bayi dengan darah sembelihan itu. Binatang sembelihan ini disebut aqiqah.
Menurut dia, arti kata 'aqiqah yakni rambut yang tumbuh di kepala bayi semasa dalam kandungan ibunya. Kata ini lalu digunakan untuk menunjuk binatang yang disembelih kala memperingati pencukuran rambut tersebut.
Pada masa pra-Islam, selain mengolesi kepala bayi dengan darah sembelihan, mulut si bayi juga diolesi kurma kunyahan atau madu lebah dan melumuri badannya dengan garam atau sesuatu yang manis. "Rasa manis dianggap sebagai simbol kebahagiaan, sementara garam merupakan unsur penting dalam hidup dan simbol kepatuhan memenuhi janji," jelasnya.
Selain aqiqah, Abdul Aziz mengatakan, bagi anak laki-laki, mereka harus mengikuti tradisi khitan sebagai wujud persembahan darah kepada tuhan, sebagaimana memotong atau mencukur rambut sebagai wujud persembahan pendekatan diri kepada tuhan. Jika seorang anak laki-laki tidak khitan, ia akan diejek sebagai al-aghlaf (manusia tumpul) atau al-a'zal (manusia tak bersenjata).
Baca juga: Arab Pra-Islam: Sudah Ada yang Mempraktikkan Ibadah Mirip Muslim
Aqiqah dalam Islam
Sementara itu, Mohammad Irsyad dalam bukunya berjudul "105 Inspirasi Nabi dalam Mendidik Anak" menjelaskan di dalam Islam, aqiqah dilakukan sebagai bentuk penghormatan kelahiran bayi ke dunia serta wujud syukur, ini juga merupakan bentuk perubahan pesta (walimah) yang dahulu biasa dilakukan orang-orang jahiliyah dalam menyambut kelahiran bayi. "Aqiqah biasanya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran si anak," katanya.
Lihat Juga :