Tradisi Aqiqah Sudah Dilakukan pada Zaman Arab Jahiliyah
Kamis, 06 Januari 2022 - 11:26 WIB
Pelaksanaan aqiqah, kata Irsyad, yakni untuk anak laki-laki dengan menyembelih dua ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan seekor kambing saja.
Sebagaimana pada hadist Nabi SAW. Aisyah berkata jika Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Ahmad)
"Aqiqah merupakan anjuran Nabi yang sifatnya sunnah muakkad. Artinya, amalan tersebut sangat dianjurkan untuk dikerjakan," kata Irsyad.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah yang telah mengatakan bahwa ia pernah menceritakan bahwa ayahnya menceritakan hal berikut:
"Dahulu pada masa Jahiliyah apabila bayi seseorang di antara kami dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkam darah kambing itu ke kepala bayinya. Setelah Allah menurunkan agama Islam, maka kami diperintahkan untuk menyembelih kambing dan mencukurnya serta melumurinya dengan minyak zaitun." (HR Abu Dawud)
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
Dalam Hadist Riwayat Tirmidzi, Samurah bin Jundub meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Setiap bayi digadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, lalu dicukur dan diberi nama."
Kemudian dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Shahih Hadits Riwayat Bukhari).
Menurut Ibnu Qayyim , aqiqah memiliki banyak fungsi antara lain merupakan kurban lillah, yaitu kurban yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, melatih diri bersikap pemurah, dan mengalahkan kekikiran pada manusia.
Baca juga: Pra-Islam: Pemeluk Yahudi Masuk Wilayah Arab dan Peristiwa Ashabul Ukhdud
Sebagaimana pada hadist Nabi SAW. Aisyah berkata jika Rasulullah bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Ahmad)
"Aqiqah merupakan anjuran Nabi yang sifatnya sunnah muakkad. Artinya, amalan tersebut sangat dianjurkan untuk dikerjakan," kata Irsyad.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah yang telah mengatakan bahwa ia pernah menceritakan bahwa ayahnya menceritakan hal berikut:
"Dahulu pada masa Jahiliyah apabila bayi seseorang di antara kami dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkam darah kambing itu ke kepala bayinya. Setelah Allah menurunkan agama Islam, maka kami diperintahkan untuk menyembelih kambing dan mencukurnya serta melumurinya dengan minyak zaitun." (HR Abu Dawud)
Baca juga: Arab Pra-Islam: Misionaris Nasrani dan Sepak Terjang Abrahah
Dalam Hadist Riwayat Tirmidzi, Samurah bin Jundub meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Setiap bayi digadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, lalu dicukur dan diberi nama."
Kemudian dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Shahih Hadits Riwayat Bukhari).
Menurut Ibnu Qayyim , aqiqah memiliki banyak fungsi antara lain merupakan kurban lillah, yaitu kurban yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, melatih diri bersikap pemurah, dan mengalahkan kekikiran pada manusia.
Baca juga: Pra-Islam: Pemeluk Yahudi Masuk Wilayah Arab dan Peristiwa Ashabul Ukhdud
(mhy)
Lihat Juga :