Santri Perlu Membangun Dakwah yang Menyatukan, Begini Caranya

Sabtu, 22 Januari 2022 - 13:11 WIB
CEO App Kedaulatan Santri (KESAN), Hamdan Hamedan. FOTO/IST
JAKARTA - Dakwah jadi ujung tombak dalam perkembangan dan penyebaran agama. Namun corak dakwah yang keras, konfrontatif, dan destruktif cenderung menimbulkan resistensi di tengah masyarakat.

Setidaknya ada tiga cara berdakwah yang dapat menyatukan umat, serta menghapuskan narasi pemecah belah kebhinekaan yang mengatasnamakan dakwah. "Pertama, dakwah yang baik. Artinya isi dakwahnya itu baik dan cara penyampaiannya pun dengan adab yang baik. Konten yang baik akan bermanfaat bagi pendengar dakwah, sedangkan adab yang baik membantu memastikan konten yang baik akan diterima oleh pendengar," ujar santri muda yang juga CEO App Kedaulatan Santri (KESAN), Hamdan Hamedan dalam keterangan tertulisnya dikutip, Sabtu (21/1/2022).

Kedua, yaitu dakwah yang benar, di mana hal atau konten yang ingin disampaikan kepada umat atau masyarakat, sudah teruji kebenaran dan keakuratannya atau bersumber dari sumber yang kredibel. Misalnya dalam Islam sumbernya Al-Qur'an, hadis, ijma' para ulama, atau pendapat para ulama yang terpercaya, sehingga tidak asal mengutip dari internet tanpa mengetahui sumbernya. Hal ini dapat menciptakan kegaduhan yang tidak perlu.

Baca juga: Video Viral Pria Tendang Sesajen, Wasekjen MUI: Dakwahlah dengan Cara yang Baik



"Ketiga, adalah dakwah yang tepat, yakni disampaikan di waktu dan tempat yang tepat. Karena ada juga suatu kebenaran yang apabila disampaikan di saat yang tidak tepat tentunya juga akan memicu resistensi atau penolakan," katanya.

Lebih lanjut, Hamdan juga menekankan kepada para santri agar senantiasa mempelajari perbedaan, baik itu perbedaan di masayarakat maupun perbedaan pendapat di kalangan ulama dan juga senantiasa menghormati perbedaan yang ada. "Kuncinya, kita harus menghormati perbedaan itu sendiri, termasuk perbedaan yang ada di dalam agama kita sendiri. Kita perlu bijak dan menghindari dari merasa diri paling benar," katanya.

Hamdan juga menyinggung kasus perusakan sesajen yang sempat viral dan membuat kegaduhan di jagad sosial media beberapa waktu lalu. Menurutnya, masyarakat Indonesia perlu memahami bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang majemuk.

"Kita harus paham bahwa kita hidup di negara yang majemuk, di mana ada orang yang mengamalkan suatu peribadatan yang berbeda, maka itu pun dilindungi oleh negara. Tetapi negara juga memberi ruang kepada kita (umat Islam) untuk mengamalkan atau pun beribadah sesuai dengan keyakinan kita," katanya.

Baca juga: Bupati Resmikan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Maros
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!