2 Jenis Sifat Akal Manusia Menurut Al-Qur'an

Senin, 24 Januari 2022 - 06:28 WIB
“Akal itu ibaratnya adalah raja pada tubuh manusia, sedangkan anggota badan, ruh manusia, panca indera, gerakan-gerakannya, semua adalah masyarakat. Ketika akal itu lemah, tidak mampu menegakkan dan menjaga rakyatnya, maka akan sampai berbagai macam keburukan kepada rakyatnya tersebut.”

Ada juga ungkapan Arab yang mengatakan:

من لم يكن عقله أغلب خصال الخير عليه، كان حتفه في أغلب خصال الشر عليه


“Barangsiapa yang tidak menjadikan akalnya sebagai sifat kebaikan yang dominan pada dirinya, maka orang seperti ini kecelakaannya adalah pada sifat keburukan yang dominan pada dirinya.”

Akal yang merupakan tabiat/watak bawaan manusia, inilah yang disebut bapaknya ilmu, pendidik ilmu dan yang menumbuhkan ilmu. Akal atau pemahaman yang diusahakan atau bisa dikembangkan dan ditingkatkan. Ini merupakan anaknya ilmu atau buah dan hasil dari ilmu.

Untuk akal yang jenis pertama, jelas bahwa semua orang punya akal, yakni kemampuan untuk memahami dan mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Permasalahannya apakah semua orang memanfaatkan potensi ini untuk memahami dan menumbuhkan ilmu yang benar pada dirinya? Jawabnya tidak. Karena penghuni neraka mengakui bahwa mereka dahulu di dunia tidak mau mendengarkan dan menggunakan akalnya untuk memahami petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jadi, akal jenis kedua inilah yang mereka tidak punyai, karena mereka tidak mau memanfaatkannya dalam memahami dan mencari kebenaran. Dan, jika terkumpul dua jenis akal ini pada diri seorang hamba, maka inilah karunia besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada siapa yang dikehendakiNya.

Baca juga: 6 Golongan Orang yang Bahagia dalam Pandangan Al-Qur'an Surat Al Mu'minun

Wallahu A'lam
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!