Peristiwa Besar di Bulan Rajab, Rasulullah SAW Pimpin Pasukan Muslim dalam Perang Tabuk
Kamis, 03 Februari 2022 - 10:00 WIB
Utsman bin Affan saja sendiri menyumbang seribu dinar, dan banyak lagi yang lain, masing-masing menurut kemampuannya. Setiap orang yang mampu tampil dengan perlengkapan dan biaya sendiri pula.
Orang-orang yang tidak punya juga banyak yang datang ingin dibawa serta oleh Nabi. Mereka yang mampu oleh Nabi dibawa, sedang kepada yang lain ia berkata: "Dalam hal ini saya tidak mendapat kendaraan yang akan dapat membawa kamu."
Dengan demikian mereka pun kembali, kembali dengan bercucuran airmata. Mereka sedih, karena tak ada pula yang dapat mereka sumbangkan. Karena tangisan mereka itu mereka diberi nama Al-Bakka'un (orang-orang yang menangis).
Pasukan yang sudah berkumpul mendampingi Nabi Muhammad ini disebut Pasukan 'Usra, karena kesukaran yang dialami sejak mulai dibangun. pasukan Muslim ini berjumlah 30.000 orang.
Selanjutnya, Rasulullah SAW menyerahkan urusan Kota Madinah kepada Muhammad bin Maslama. Sedangkan urusan keluarga Rasulullah SAW diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib .
Setelah segala sesuatunya sudah dianggap beres, kata Haekal, beliau memimpin pasukan. Ketika itu, Abdullah bin Ubayy juga sudah siap dengan sebuah pasukan terdiri dari golongannya sendiri, akan berangkat di samping pasukan Rasulullah SAW.
Akan tetapi menurut Nabi, Abdullah dan pasukannya itu supaya tetap di Madinah saja karena selain kurang dapat dipercaya imannya juga ia tidak kuat.
Selanjutnya pasukan muslim itu pun berangkat. Debu dan pasir halus mengepul-ngepul ke udara diselingi oleh ringkik kuda. Wanita-wanita Madinah pergi naik ke atas loteng. Mereka menyaksikan pasukan tentara yang dahsyat ini, berangkat hendak menerobos padang sahara menuju ke arah Syam; yang demi di jalan Allah, tidak mereka pedulikan lagi udara panas, rasa dahaga dan lapar.
Pasukan yang telah didahului oleh 10.000 pasukan berkuda serta kaum wanita yang begitu terpesona menyaksikan segala kebesaran dan kekuatan itu, suasananya telah dapat menggerakkan hati beberapa orang yang tadinya surut dalam menerima ajakan Rasul dan tidak mau ikut.
Baca juga: Pendekar Pincang Itu Syahid Bersama Putranya dalam Perang Uhud
Kisah Abu Khaithama
Demikian juga Abu Khaithama, setelah melihat suasana itu ia kembali pulang. Kedua orang isterinya dijumpainya masing-masing sedang menyirami tempat ia berteduh dan sedang mendinginkan air minum dan menyediakan makanan buat dia. Setelah dilihatnya apa yang dilakukan wanita itu ia berkata:
"Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul."
Setelah bekal yang diperlukan disediakan, ia pun pergi menyusul pasukan tentara. Mungkin masih ada juga sekelompok orang yang tinggal di belakang telah pula mengikuti jejak Abu Khaithama, setelah mereka menyadari bahwa tindakan mereka yang hendak mengelak dan takut-takut itu suatu tindakan tercela dan hina.
Puing-puing Tsamud
Dalam perjalanannya tentara itu sudah sampai di Hijr. Di tempat ini terdapat pula puing-puing bekas rumah-rumah kaum Tsamud yang terukir pada batu besar. Di tempat itu mereka oleh Rasulullah diperintahkan berhenti. Orang-orang pun mulai mengambil air dari sumur. Setelah selesai, kata Rasul kepada mereka:
"Jangan ada yang minum air sumur ini, juga jangan dipakai berwudu untuk sembahyang. Bila sudah ada adonan yang kamu buat dengan air itu berikanlah kepada ternak dan sama sekali jangan kamu makan. Juga jangan ada yang keluar malam ini kalau tidak disertai seorang teman."
Menurut Haekal, soalnya tempat itu tiada pernah dilalui orang dan kadang timbul angin badai berupa pasir yang dapat menimbun manusia atau binatang.
Malam itu ada dua orang yang keluar diluar perintah Rasul. Salah seorang daripada mereka dibawa angin dan yang seorang lagi tertimbun pasir.
Keesokan harinya orang melihat pasir itu telah menimbuni sumur sehingga air tidak ada lagi. Orang jadi takut akan kehausan lebih ngeri lagi karena perjalanan masih panjang. Akan tetapi, sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang awan membawa hujan dan mereka pun kini mendapat air berlimpah-limpah.
Perasaan takut hilang dan mereka semua bergembira. Ada mereka yang berkata satu sama lain, bahwa itu suatu mujizat. Sedang yang lain mengatakan itu hanya awan lalu.
Baca juga: Kisah di Balik Perang Uhud (2-Habis): Ketika Rasulullah Terjebak Perangkap Kafir Quraisy
Romawi Menarik Pasukannya
Setelah itu pasukan tentara itu meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya tentang pasukan ini dan kekuatannya beritanya sudah sampai kepada pihak Romawi. Oleh karena itu pihak Romawi lebih suka menarik mundur pasukannya yang tadinya sudah ditujukan ke perbatasan dengan maksud hendak melindungi daerah Syam dengan benteng-bentengnya itu.
Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Nabi Muhammad SAW mengetahui pihak Romawi menarik diri dan berada dalam ketakutan, dirasa sudah tidak pada tempatnya akan mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka.
Oleh karena itu Beliau tetap tinggal di perbatasan, akan menghadapi siapa saja yang akan menyerang atau melawannya. Beliau berusaha menjaga perbatasan-perbatasan itu supaya jangan ada pihak yang melanggarnya.
Kisah Yohanna bin Ru'ba
Ketika itulah Yohanna bin Ru'ba - seorang amir (penguasa) Aila yang tinggal di perbatasan oleh Nabi telah dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu.
Orang-orang yang tidak punya juga banyak yang datang ingin dibawa serta oleh Nabi. Mereka yang mampu oleh Nabi dibawa, sedang kepada yang lain ia berkata: "Dalam hal ini saya tidak mendapat kendaraan yang akan dapat membawa kamu."
Dengan demikian mereka pun kembali, kembali dengan bercucuran airmata. Mereka sedih, karena tak ada pula yang dapat mereka sumbangkan. Karena tangisan mereka itu mereka diberi nama Al-Bakka'un (orang-orang yang menangis).
Pasukan yang sudah berkumpul mendampingi Nabi Muhammad ini disebut Pasukan 'Usra, karena kesukaran yang dialami sejak mulai dibangun. pasukan Muslim ini berjumlah 30.000 orang.
Selanjutnya, Rasulullah SAW menyerahkan urusan Kota Madinah kepada Muhammad bin Maslama. Sedangkan urusan keluarga Rasulullah SAW diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib .
Setelah segala sesuatunya sudah dianggap beres, kata Haekal, beliau memimpin pasukan. Ketika itu, Abdullah bin Ubayy juga sudah siap dengan sebuah pasukan terdiri dari golongannya sendiri, akan berangkat di samping pasukan Rasulullah SAW.
Akan tetapi menurut Nabi, Abdullah dan pasukannya itu supaya tetap di Madinah saja karena selain kurang dapat dipercaya imannya juga ia tidak kuat.
Selanjutnya pasukan muslim itu pun berangkat. Debu dan pasir halus mengepul-ngepul ke udara diselingi oleh ringkik kuda. Wanita-wanita Madinah pergi naik ke atas loteng. Mereka menyaksikan pasukan tentara yang dahsyat ini, berangkat hendak menerobos padang sahara menuju ke arah Syam; yang demi di jalan Allah, tidak mereka pedulikan lagi udara panas, rasa dahaga dan lapar.
Pasukan yang telah didahului oleh 10.000 pasukan berkuda serta kaum wanita yang begitu terpesona menyaksikan segala kebesaran dan kekuatan itu, suasananya telah dapat menggerakkan hati beberapa orang yang tadinya surut dalam menerima ajakan Rasul dan tidak mau ikut.
Baca juga: Pendekar Pincang Itu Syahid Bersama Putranya dalam Perang Uhud
Kisah Abu Khaithama
Demikian juga Abu Khaithama, setelah melihat suasana itu ia kembali pulang. Kedua orang isterinya dijumpainya masing-masing sedang menyirami tempat ia berteduh dan sedang mendinginkan air minum dan menyediakan makanan buat dia. Setelah dilihatnya apa yang dilakukan wanita itu ia berkata:
"Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul."
Setelah bekal yang diperlukan disediakan, ia pun pergi menyusul pasukan tentara. Mungkin masih ada juga sekelompok orang yang tinggal di belakang telah pula mengikuti jejak Abu Khaithama, setelah mereka menyadari bahwa tindakan mereka yang hendak mengelak dan takut-takut itu suatu tindakan tercela dan hina.
Puing-puing Tsamud
Dalam perjalanannya tentara itu sudah sampai di Hijr. Di tempat ini terdapat pula puing-puing bekas rumah-rumah kaum Tsamud yang terukir pada batu besar. Di tempat itu mereka oleh Rasulullah diperintahkan berhenti. Orang-orang pun mulai mengambil air dari sumur. Setelah selesai, kata Rasul kepada mereka:
"Jangan ada yang minum air sumur ini, juga jangan dipakai berwudu untuk sembahyang. Bila sudah ada adonan yang kamu buat dengan air itu berikanlah kepada ternak dan sama sekali jangan kamu makan. Juga jangan ada yang keluar malam ini kalau tidak disertai seorang teman."
Menurut Haekal, soalnya tempat itu tiada pernah dilalui orang dan kadang timbul angin badai berupa pasir yang dapat menimbun manusia atau binatang.
Malam itu ada dua orang yang keluar diluar perintah Rasul. Salah seorang daripada mereka dibawa angin dan yang seorang lagi tertimbun pasir.
Keesokan harinya orang melihat pasir itu telah menimbuni sumur sehingga air tidak ada lagi. Orang jadi takut akan kehausan lebih ngeri lagi karena perjalanan masih panjang. Akan tetapi, sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang awan membawa hujan dan mereka pun kini mendapat air berlimpah-limpah.
Perasaan takut hilang dan mereka semua bergembira. Ada mereka yang berkata satu sama lain, bahwa itu suatu mujizat. Sedang yang lain mengatakan itu hanya awan lalu.
Baca juga: Kisah di Balik Perang Uhud (2-Habis): Ketika Rasulullah Terjebak Perangkap Kafir Quraisy
Romawi Menarik Pasukannya
Setelah itu pasukan tentara itu meneruskan perjalanan ke Tabuk. Sebenarnya tentang pasukan ini dan kekuatannya beritanya sudah sampai kepada pihak Romawi. Oleh karena itu pihak Romawi lebih suka menarik mundur pasukannya yang tadinya sudah ditujukan ke perbatasan dengan maksud hendak melindungi daerah Syam dengan benteng-bentengnya itu.
Setelah pihak Muslimin sampai di Tabuk dan Nabi Muhammad SAW mengetahui pihak Romawi menarik diri dan berada dalam ketakutan, dirasa sudah tidak pada tempatnya akan mengejar mereka terus sampai ke dalam negeri mereka.
Oleh karena itu Beliau tetap tinggal di perbatasan, akan menghadapi siapa saja yang akan menyerang atau melawannya. Beliau berusaha menjaga perbatasan-perbatasan itu supaya jangan ada pihak yang melanggarnya.
Kisah Yohanna bin Ru'ba
Ketika itulah Yohanna bin Ru'ba - seorang amir (penguasa) Aila yang tinggal di perbatasan oleh Nabi telah dikirimi surat supaya ia tunduk atau akan diserbu.
Lihat Juga :