Bagaimana Hukum Mengghibah Orang yang Sudah Terkenal Keburukannya?
Senin, 21 Februari 2022 - 10:21 WIB
Baca juga: Menjaga Hati Istri, Sunnah Rasulullah yang Harus Ditiru Para Suami
Lalu bagaimana dengan sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam ketika beliau menyebutkan sifat jelek seseorang sebagaimana dalam hadis
Aisyah berkata: “Seseorang datang minta idzin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Izinkankanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang yang di tengah kaumnya” (Riwayat Bukhari dan Muslim no 2591),
Apakah di dalam hadis tersebut mengandung makna terhadap pembolehan melakukan ghibah terhadap orang yang telah terang-terangan/dikenal sebagai seorang yang melakukan kejelekan/kafasikan?
Dijelaskan oleh imam As-Syaukani terhadap hadist di atas di mana beliau menjelaskan ,” bahwasanya dalil ini tidaklah tepat untuk membolehkan menggibahi orang yang menampakkan kefasikannya. Sebab ucapan (ia adalah sejahat-jahat orang yang di tengah kaumnya) berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau benar ini adalah ghibah maka tidak boleh kita mengikutinya sebab Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang ghibah dalam hadits-hadits yang banyak. Dan karena kita tidak mengetahui hakikat dan inti dari perkara ini. Dan juga, pria yang disinggung oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut ternyata hanya mengakui Islam secara dzohir, sedangkan keadaannya goncang dan masih ada bekas jahiliah pada dirinya. (Penjelasan yang lebih lengkap lihat Bahjatun Nadzirin 3/46).
Kesimpulan dipaparkan Ustadz Mu’tashim, bahwa sebaiknya hindari membicarakan kefasikan orang lain walau telah tersebar di kalangan manusia kecuali bila ada alasan kuat untuk menceritakannya, baik untuk mencari fatwa atau supaya manusia terhindar dari kejahatannya atau untuk mengadukan perkaranya atau untuk mengubah perilaku dia yang dianggap kurang.
Baca juga: Doa agar Bisa Mengerjakan Ujian dengan Benar dan Diberi Kemudahan
Wallahu A`lam.
Lalu bagaimana dengan sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam ketika beliau menyebutkan sifat jelek seseorang sebagaimana dalam hadis
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ائْذَنُوْا لَهُ, بِئْسَ أَخُوْا الْعَشِيْرَةِ
Aisyah berkata: “Seseorang datang minta idzin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Izinkankanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang yang di tengah kaumnya” (Riwayat Bukhari dan Muslim no 2591),
Apakah di dalam hadis tersebut mengandung makna terhadap pembolehan melakukan ghibah terhadap orang yang telah terang-terangan/dikenal sebagai seorang yang melakukan kejelekan/kafasikan?
Dijelaskan oleh imam As-Syaukani terhadap hadist di atas di mana beliau menjelaskan ,” bahwasanya dalil ini tidaklah tepat untuk membolehkan menggibahi orang yang menampakkan kefasikannya. Sebab ucapan (ia adalah sejahat-jahat orang yang di tengah kaumnya) berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalau benar ini adalah ghibah maka tidak boleh kita mengikutinya sebab Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang ghibah dalam hadits-hadits yang banyak. Dan karena kita tidak mengetahui hakikat dan inti dari perkara ini. Dan juga, pria yang disinggung oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut ternyata hanya mengakui Islam secara dzohir, sedangkan keadaannya goncang dan masih ada bekas jahiliah pada dirinya. (Penjelasan yang lebih lengkap lihat Bahjatun Nadzirin 3/46).
Kesimpulan dipaparkan Ustadz Mu’tashim, bahwa sebaiknya hindari membicarakan kefasikan orang lain walau telah tersebar di kalangan manusia kecuali bila ada alasan kuat untuk menceritakannya, baik untuk mencari fatwa atau supaya manusia terhindar dari kejahatannya atau untuk mengadukan perkaranya atau untuk mengubah perilaku dia yang dianggap kurang.
Baca juga: Doa agar Bisa Mengerjakan Ujian dengan Benar dan Diberi Kemudahan
Wallahu A`lam.
(wid)
Lihat Juga :