Surat al-Qashash Ayat 23-28: Kisah Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Syu’aib
Sabtu, 19 Maret 2022 - 15:35 WIB
Berbeda dengan al-Thabari yang meriwayatkan banyak keterangan terkait sosok ayah kedua perempuan dalam ayat, al-Qusyairi dalam Lathaif al-Isyarat secara tegas mengatakan bahwa sosok yang dimaksud dalam ayat adalah Nabi Syu’aib as.
Lebih lanjut al-Qusyairi menerangkan bahwa ketika itu Nabi Syu’aib dalam kondisi kurang penglihatannya. Hal ini menurut al-Qusyairi karena Nabi Syu’aib terlalu banyak menangis. Tangisannya tersebut dipicu oleh rasa kerinduan Nabi Syu’aib as kepada Allah SWT.
Baca juga: Kisah Hikmah : Pakaian Malu Istri Nabi Musa
Pada tiga ayat berikutnya dijelaskan pada akhirnya Nabi Musa as menikah dengan salah satu dari dua perempuan tersebut. Allah SWT berfirman:
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”
Lebih lanjut al-Qusyairi menerangkan bahwa ketika itu Nabi Syu’aib dalam kondisi kurang penglihatannya. Hal ini menurut al-Qusyairi karena Nabi Syu’aib terlalu banyak menangis. Tangisannya tersebut dipicu oleh rasa kerinduan Nabi Syu’aib as kepada Allah SWT.
Baca juga: Kisah Hikmah : Pakaian Malu Istri Nabi Musa
Pada tiga ayat berikutnya dijelaskan pada akhirnya Nabi Musa as menikah dengan salah satu dari dua perempuan tersebut. Allah SWT berfirman:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ[aranClose]
Dia (Syekh Madyan) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.”
“Dia (Musa) berkata, “Itu (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan.”
Menurut al-Thabari, perempuan yang menikah dengan Nabi Musa as adalah Shafura, bukan Layya. Kemudian sebagaimana tertera dalam ayat, Nabi Musa as bekerja dengan Nabi Syu’aib untuk memelihara ternak hingga sepuluh tahun. Setelah selesai masa kontrak sepuluh tahun, Nabi Musa bersama istrinya berangkat dari Madyan menuju Mesir. Wallahu A’lam.
Baca juga: Nabi Joshua, Pengganti Nabi Musa yang Merebut Baitul Maqdis
Dia (Syekh Madyan) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.”
قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
“Dia (Musa) berkata, “Itu (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan.”
Menurut al-Thabari, perempuan yang menikah dengan Nabi Musa as adalah Shafura, bukan Layya. Kemudian sebagaimana tertera dalam ayat, Nabi Musa as bekerja dengan Nabi Syu’aib untuk memelihara ternak hingga sepuluh tahun. Setelah selesai masa kontrak sepuluh tahun, Nabi Musa bersama istrinya berangkat dari Madyan menuju Mesir. Wallahu A’lam.
Baca juga: Nabi Joshua, Pengganti Nabi Musa yang Merebut Baitul Maqdis
(mhy)
Lihat Juga :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini