Maaf Rasulullah: Hidangan Susu untuk Calon Pembunuh
Rabu, 17 Juni 2020 - 05:00 WIB
Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.”
Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Nabi yang turut menyaksikan adegan ini menjadi geram terhadap orang yang tidak tahu untung tersebut. Hal yang mengagetkan para sahabat, Rasulullah justru membebaskan Tsumamah dan menyuruhnya pergi.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Si musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad Rasul Allah".
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki Kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."
Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar
Maaf Rasulullah
Memaafkan merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Abdullah al-Jadali berkata, ''Aku bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW, lalu ia menjawab, 'Beliau bukanlah orang yang keji (dalam perkataan ataupun perbuatan), suka kekejian, suka berteriak di pasar-pasar atau membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan orang yang suka memaafkan.'' (HR Tirmidzi; hadis sahih).
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Umat Islam diperintahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang hebat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang yang hebat adalah orang yang (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah. Memaafkan dan mengampuni juga merupakan perbuatan yang diperintahkan Sang Khalik kepada umatnya."
Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Nabi yang turut menyaksikan adegan ini menjadi geram terhadap orang yang tidak tahu untung tersebut. Hal yang mengagetkan para sahabat, Rasulullah justru membebaskan Tsumamah dan menyuruhnya pergi.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Si musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad Rasul Allah".
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki Kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."
Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar
Maaf Rasulullah
Memaafkan merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Abdullah al-Jadali berkata, ''Aku bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW, lalu ia menjawab, 'Beliau bukanlah orang yang keji (dalam perkataan ataupun perbuatan), suka kekejian, suka berteriak di pasar-pasar atau membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan orang yang suka memaafkan.'' (HR Tirmidzi; hadis sahih).
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Umat Islam diperintahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang hebat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang yang hebat adalah orang yang (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah. Memaafkan dan mengampuni juga merupakan perbuatan yang diperintahkan Sang Khalik kepada umatnya."
Lihat Juga :