Wahai Muslimah, Perhatikan dengan Siapa Kamu Berteman!

Kamis, 18 Juni 2020 - 07:31 WIB
Teman adalah cermin dari diri kita, sehingga memilih teman menjadi prinsip utama dalam Islam. Foto pinterest
Memilih teman bukanlah perkara remeh. Islam memerintahkan umatnya untuk memilih siapa yang menjadi teman kita. Islam juga memberikan perhatian yang penuh agar umatnya tidak sembarangan memilih teman. Karena itulah, dianjurkan agar muslimah memilih teman yang setiap saat mengingatkan tentang pentingnya iman dan menjalankan aturan agama. Muslimah jangan terlena pada kehidupan hura-hura para wanita akibat tertipu kehidupan dunia.

Perlu ketahui, bahwa dalam pandangan Islam , teman itu layaknya cermin. Jika muslimah ingin mengetahui dirinya sendiri, maka lihatlah dengan siapa muslimah berteman. Jika temannya suka dunia malam, dunia gemerlap, dan jauh dari agama, maka dipastikan muslimah juga terjebak di kehidupan seperti itu. (Baca juga : Hidayah Hijrah, Anugerah Terindah Dari Allah SWT )

Sebaliknya, jika temannya adalah suka menuntut ilmu agama, suka kajian Islam, maka Insya Allah, seorang muslimah akan dekat dengan agama. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المؤمن مر آه (اخيه)المؤمن

“Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud dalam Ash-Shahihah)

Maka, wahai muslimah berhati-hatilah. Memilih teman yang saleha adalah wajib. Selektif dalam memilih teman merupakan prinsip utama dalam Islam. Sejarah pun menunjukkan bahwa para ulama terdahulu (as-salafush shalih ) benar-benar memerhatikan prinsip ini. Karena sosok teman sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل

“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad)

Di dalam Shahih Al-Bukhari , disebutkan bahwa Alqamah rahimahullah seorang tabi’in yang mulia berkisah, bahwa ketika dia masuk ke Negeri Syam, maka dia (langsung menuju masjid dan) salat dua rakaat. Kemudian dia memanjatkan sebuah doa: ‘Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini)’.

Usai berdoa dia mendatangi sekelompok orang yang sedang duduk-duduk dan turut bergabung bersama mereka. Lalu datanglah seorang syaikh dan duduk di sebelahku. Dia bertanya kepada mereka, ‘Siapakah orang ini?’

Mereka menjawab: ‘Beliau adalah Abu Darda’ (seorang sahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam). Maka tabi'in itu mengatakan kepada beliau Abu Darda', "Aku telah berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini). Sungguh Allah Subhanahu wa ta'ala telah memudahkanku untuk bertemu denganmu." Lalu Abu Darda’ berkata, "Dari manakah engkau?". Maka dia mengatakan: "Aku dari negeri Kufah.”

Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc, menukil pernyataan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah. Bahwa Syaikh Utsaimin mengatakan, "Memerhatikan atau memilih teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Jika mereka itu orang-orang yang buruk, maka hendaknya dijauhi, karena (penyakit) mereka itu lebih kuat penularannya daripada kusta. Atau jika mereka itu teman-teman yang baik, yang senantiasa memerintahkan kepada kebaikan, mencegah (anda) dari kemungkaran dan membimbing kepada pintu-pintu kebaikan, bergaullah (dengan mereka).”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!