Baper kepada Allah SWT
Senin, 18 April 2022 - 14:30 WIB
Ustadz H Hendra Wijaya. M.Ed. CDAI. Al Hafidz, dai yang Berkhidmat di Dompet Dhuaa. Foto dok Dompet Dhuafa
Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu pernah menangis dengan keras saat membaca surat At-Thur ayat ke tujuh. Karena terlalu kerasnya tangisan tersebut, beliau pun sakit.Dikutip dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Umar bin Khattab menangis ketika sampai pada ayat:
"Sungguh, azab Rabbmu pasti terjadi".
Karena sangat kerasnya tangisan tersebut, beliau sakit, akhirnya para sahabat menjenguknya.Hal ini sangat menarik untuk kita kaji secara mendalam, bagaimana bisa seorang sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu yang terkenal dengan kekuatan, kedisiplinan dan ketegasannya ini luluh dan menangis lagi tersungkur disebabkan oleh satu ayat saja.
Baca juga : Saatnya Mengakrabi Al-Qur'an di Malam-malam Ramadhan
Itulah sensitifitas dari para generasi terbaik dalam Islam, mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai hal yang sakral, lagi bisa memasukkan setiap kandungan dari Al-Qur’an kedalam sanubari mereka, sehingga wajar mereka para sahabat menjadi panutan kita setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam menjalankan agama ini.
Kalau kita melihat bagaimana kondisi kita umat islam pada zaman ini, tentunya kita bisa melihat dan menilai, begitu jauhnya kita jika dibandingkan dengan kualitas para sahabat pada masanya. Kita pada masa ini, kehilangan sensitifitas dalam beribadah kepada Allah SWT, sehingga ibadah hanya sebatas ritual pengulangan, dan ritual otomatis secara jasmani saja, tanpa ada efek positif dari tiap ibadah yang kita lakukan.
Dari sinilah banyak fenomena yang terjadi di zaman kita, dimana seseorang melaksanakan ibadah-ibadah tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT, akan tetapi dilain kesempatan dia masih melakukan kezaliman, mengambil harta orang lain secara zalim, berbuat curang, aniaya, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.
Solusi dari problematika yang baru saja saya sampaikan diatas adalah, bagaimana kita menjadikan umat muslim saat ini bisa menjadi seperti Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu dan para sahabat lainnya dalam menumbuhkan sensitifitas beribadah kepada Allah SWT, berusaha khusyu serta ihsan dalam keseharian kita. Dengan sensitifitas tersebut tidak jarang juga Rasulullah SAW dan para sahabat selalu menangis hanya karena suatu kesalahan tertentu, atau mengingat kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala.
Dalam beberapa hadistnya dijelaskan, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu'anhu dia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ
"Sungguh, azab Rabbmu pasti terjadi".
Karena sangat kerasnya tangisan tersebut, beliau sakit, akhirnya para sahabat menjenguknya.Hal ini sangat menarik untuk kita kaji secara mendalam, bagaimana bisa seorang sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu yang terkenal dengan kekuatan, kedisiplinan dan ketegasannya ini luluh dan menangis lagi tersungkur disebabkan oleh satu ayat saja.
Baca juga : Saatnya Mengakrabi Al-Qur'an di Malam-malam Ramadhan
Itulah sensitifitas dari para generasi terbaik dalam Islam, mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai hal yang sakral, lagi bisa memasukkan setiap kandungan dari Al-Qur’an kedalam sanubari mereka, sehingga wajar mereka para sahabat menjadi panutan kita setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam menjalankan agama ini.
Kalau kita melihat bagaimana kondisi kita umat islam pada zaman ini, tentunya kita bisa melihat dan menilai, begitu jauhnya kita jika dibandingkan dengan kualitas para sahabat pada masanya. Kita pada masa ini, kehilangan sensitifitas dalam beribadah kepada Allah SWT, sehingga ibadah hanya sebatas ritual pengulangan, dan ritual otomatis secara jasmani saja, tanpa ada efek positif dari tiap ibadah yang kita lakukan.
Dari sinilah banyak fenomena yang terjadi di zaman kita, dimana seseorang melaksanakan ibadah-ibadah tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT, akan tetapi dilain kesempatan dia masih melakukan kezaliman, mengambil harta orang lain secara zalim, berbuat curang, aniaya, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.
Solusi dari problematika yang baru saja saya sampaikan diatas adalah, bagaimana kita menjadikan umat muslim saat ini bisa menjadi seperti Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu dan para sahabat lainnya dalam menumbuhkan sensitifitas beribadah kepada Allah SWT, berusaha khusyu serta ihsan dalam keseharian kita. Dengan sensitifitas tersebut tidak jarang juga Rasulullah SAW dan para sahabat selalu menangis hanya karena suatu kesalahan tertentu, atau mengingat kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala.
Dalam beberapa hadistnya dijelaskan, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu'anhu dia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:
Lihat Juga :