Kisah Umar Bin Khattab di Masa Jahiliyah, Ahli Miras dan Mencumbu Perempuan

Jum'at, 06 Mei 2022 - 13:36 WIB
Di masa Jahiliyah Umar bin Khattab dikenal jago gulat dan pacuan kuda. Dia juga penggemar khamar dan wanita jelita. Foto/Ilusrasi: ArtStation
Gambaran kehidupan Umar bin Khattab semasa jahiliyah lebih mirip dalam dunia kelam. Gelap. Ayahnya yang miskin dan pemarah sering menghajarnya. Umar adalah si kidal penggembala unta. Badannya kekar, jago gulat dan pacuan kuda. Dia juga penggemar khamar dan wanita jelita. Tuhan Lat dan Uzza sesembahannya.

Inilah kabilah Umar. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi Muhammad SAW yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Baca juga: 10 Karomah Sayyidina Umar Bin Khattab (1)

Khattab orang terpandang di kalangan masyarakatnya, tetapi dia bukan orang kaya, juga tak mempunyai khadam. Umar pernah menulis surat kepada Amr bin al-As yang ketika itu ditempatkan sebagai amir untuk Mesir, menanyakan asal usul hasil kekayaan yang dihimpunnya.

Dalam surat balasannya itu Amr marah, di antaranya ia mengatakan:

"...Sungguh, kalaupun dalam mengkhianati Anda itu halal, saya tidak akan mengkhianati Anda atas kepercayaan yang telah Anda berikan kepada saya. Saya turunan orang baik-baik, yang jika kami hubungkan ke sana tak perlu lagi saya mengkhianati Anda. Anda menyebutkan bahwa di samping Anda ada kaum Muhajirin yang mula-mula yang lebih baik dari saya. Kalau memang begitu, demi Allah wahai Amirul mukminin, saya tidak akan mengetuk pintu untuk Anda dan gembok pintu saya pun tidak akan saya bukakan kepada Anda."

Amr bin al-As begitu marah atas surat Umar itu sampai ia berkata kepada Muhammad bin Maslamah ketika ia datang sebagai utusan Umar untuk mengadakan perhitungan:

"...Sial benar sejarah ini, yang telah membuat aku menjadi gubernur Umar! Saya dulu melihat Umar dan ayahnya sama-sama mengenakan jubah putih berbulu kasar tipis yang tak sampai di lekuk lututnya dan memikul seikat kayu bakar', sedang al-As bin Wa'il memakai pakaian sutera berumbai-rumbai."

Muhammad bin Maslamah mengingatkan, "Sudahlah Amr! Umar lebih baik dari Anda, sedang bapak Anda dan bapaknya sudah sama-sama dalam neraka..."

Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan

Muhammad Husain Haekal dalam buku “Umar bin Khattab” mendiskripsikan bahwa Khattab, ayah Umar, adalah laki-laki yang berperangai kasar dan keras. Hal itu juga pernah disampaikan Umar. "Aku pernah menggembalakan ternak Khattab di tempat ini. Yang kuketahui dia kasar dan keras,” tutur Umar saat melewati sebuah tempat yang berpohon-pohon, yang disebut Dajnan. Kala itu, Umar sudah menjadi khalifah.

Menurut sumber at-Tabari juga disebutkan bahwa di masa kekhalifannya, ketika melalui Dajnan Umar berkata: "Tiada tuhan selain Allah Yang telah memberi rezeki sekehendak-Nya dan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dulu aku menggembalakan untuk Khattab di lembah ini dengan mengenakan jubah dari bulu. Dia kasar, payah benar aku bekerja dengan dia; dipukulnya aku kalau lengah. Ketika aku pulang di waktu sore hanya Allah Yang tahu..." Kemudian ia mengutip beberapa sajak para penyair.

Khattab mengawini perempuan bukan karena birahi, tetapi supaya mendapat anak yang banyak. Ketika itu orang yang banyak anak menjadi kebanggaan orang Arab. Orang masih ingat bagaimana Abdul Muthalib kakek Nabi merasa tak berdaya di tengah-tengah masyarakatnya sendiri, karena tak banyak anak. Lalu ia bernazar kalau mempunyai sepuluh anak laki-laki sampai dewasa sehingga dapat memperkuatnya, salah seorang di antaranya akan disembeiih sebagai kurban untuk sang dewa di Kakbah.

Banu Adi merasa sangat tak berdaya, karena jumlah mereka kecil sehingga oleh keluarga Abdu-Syams mereka diusir dari perkampungannya di Safa. Tidak heran jika Khattab ingin mendapat anak lebih banyak supaya sedapat mungkin dapat memperkuat diri.

Baca juga: Bidadari Hitam Manis untuk Umar Bin Khattab

Sebenarnya Khattab ini cerdas, sangat dihormati di kalangan masyarakatnya, pemberani. Dengan tangkas dan tabah ia memimpin Banu Adi dalam suatu pertempuran. Banu Adi ini yang dulu ikut dalam Perang Fijar, yang dipimpin oleh Zaid bin Amr bin Nufail dan Khattab bin Nufail pamannya, sekaligus saudaranya dari pihak ibu, sebab perkawinan Nufail dengan Jaida' yang kemudian melahirkan Khattab.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!