Kisah Umar Bin Khattab di Masa Jahiliyah, Ahli Miras dan Mencumbu Perempuan
Jum'at, 06 Mei 2022 - 13:36 WIB
Di antara perempuan yang sudah dikawini Khattab termasuk Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah dari Banu Makhzum yang masih sepupu Khalid bin al-Walid dari pihak ayah. Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum kakek mereka bersama, yang juga pemimpin pemuka-pemuka Quraisy dan salah seorang pahlawannya.
Dalam pasukan tentara Banu Makhzum dia juga komandannya, sehingga mendapat gelar sesuai dengan kedudukannya itu. Dengan kedudukannya yang demikian di kalangan Quraisy, dialah yang telah menasihati kakek Nabi, supaya jangan menyembelih Abdullah anaknya sebagai kurban untuk memenuhi nazarnya, dengan mengatakan: "Janganlah sekali-kali menyembelihnya sebelum kita memberikan alasan. Kalau penebusannya dapat kita lakukan dengan harta kita, kita tebuslah."
Dengan kedudukannya itu Hantamah adalah perempuan yang selalu dekat di mata suaminya dan lebih diutamakan dari istri-istrinya yang lain. Setelah Umar lahir sang ayah merasa sangat gembira dan dibawanya kepada berhala-berhala sebagai tanda kegembiraannya. Kaum fakir miskin di kalangan Banu Adi yang banyak jumlahnya ketika itu diberi santunan berupa makanan.
Masa kecil dan remaja
Menurut Haekal, semasa anak-anak, Umar dibesarkan seperti layaknya anak-anak Quraisy. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain, ia sempat belajar baca-tulis, hal yang jarang sekali terjadi di kalangan mereka.
Dari semua suku Quraisy ketika Nabi diutus hanya tujuh belas orang yang pandai baca-tulis. Umar termasuk istimewa di antara teman-teman sebayanya. Orang-orang Arab masa itu, menurut Haekal, tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari belajar.
Sesudah Umar beranjak remaja ia bekerja sebagai gembala unta ayahnya di Dajnan atau di tempat lain di pinggiran kota Mekkah.
Menggembalakan unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan anak-anak Quraisy betapapun tingkat kedudukan mereka.
Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Beranjak dari masa remaja ke masa pemuda sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya, lebih tinggi dan lebih besar. Ketika Auf bin Malik melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh melebihi yang lain sehingga sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan siapa orang itu, dijawab: Dia Umar bin Khattab.
Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Sejak mudanya ia memang sudah mahir dalam berbagai olahraga: olahraga gulat dan menunggang kuda. Ketika ia sudah masuk Islam ada seorang gembala ditanya orang: Kau tahu si kidal itu sudah masuk Islam?
Gembala itu menjawab: “Yang beradu gulat di Pasar Ukaz?” Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu memekik: “Oh, mungkin ia membawa kebaikan buat mereka, mungkin juga bencana”.
Penunggang kuda
Dari antara berbagai macam olahraga, naik kuda itulah yang paling disukainya sepanjang hidupnya. Selama dalam pemerintahannya pernah ia datang dengan memacu kudanya sehingga hampir menabrak orang. Ketika mereka melihatnya, mereka heran. “Apa yang membuat kalian heran?” tanyanya. “Aku merasa cukup segar lalu kukeluarkan seekor kuda dan kupacu,” jelasnya.
Dalam perang, juga dia memegang peranan penting, yang diwarisinya dari pihak saudara-saudara ibunya Banu Makhzum. Ketika dalam sakitnya yang terakhir Abu Bakar sudah berkata: "Tatkala aku mengirim Khalid bin Walid ke Syam aku bermaksud mengirim Umar bin Khattab ke Irak. Ketika itu sudah kubentangkan kedua tanganku demi di jalan Allah."
Di samping kemahirannya dalam olahraga berkuda, adu gulat dan berbagai olahraga lain, apresiasinya terhadap puisi juga tinggi dan suka mengutipnya. la suka mendengarkan para penyair membaca puisi di Ukaz dan di tempat-tempat lain. Banyak syair yang sudah dihafalnya dan membacanya kembali mana-mana yang disenanginya, di samping kemampuannya berbicara panjang mengenai penyair-penyair al-Hutai'ah, Hassan bin Sabit, az-Zibriqan' dan yang lain.
Dalam pasukan tentara Banu Makhzum dia juga komandannya, sehingga mendapat gelar sesuai dengan kedudukannya itu. Dengan kedudukannya yang demikian di kalangan Quraisy, dialah yang telah menasihati kakek Nabi, supaya jangan menyembelih Abdullah anaknya sebagai kurban untuk memenuhi nazarnya, dengan mengatakan: "Janganlah sekali-kali menyembelihnya sebelum kita memberikan alasan. Kalau penebusannya dapat kita lakukan dengan harta kita, kita tebuslah."
Dengan kedudukannya itu Hantamah adalah perempuan yang selalu dekat di mata suaminya dan lebih diutamakan dari istri-istrinya yang lain. Setelah Umar lahir sang ayah merasa sangat gembira dan dibawanya kepada berhala-berhala sebagai tanda kegembiraannya. Kaum fakir miskin di kalangan Banu Adi yang banyak jumlahnya ketika itu diberi santunan berupa makanan.
Masa kecil dan remaja
Menurut Haekal, semasa anak-anak, Umar dibesarkan seperti layaknya anak-anak Quraisy. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain, ia sempat belajar baca-tulis, hal yang jarang sekali terjadi di kalangan mereka.
Dari semua suku Quraisy ketika Nabi diutus hanya tujuh belas orang yang pandai baca-tulis. Umar termasuk istimewa di antara teman-teman sebayanya. Orang-orang Arab masa itu, menurut Haekal, tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari belajar.
Sesudah Umar beranjak remaja ia bekerja sebagai gembala unta ayahnya di Dajnan atau di tempat lain di pinggiran kota Mekkah.
Menggembalakan unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan anak-anak Quraisy betapapun tingkat kedudukan mereka.
Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Beranjak dari masa remaja ke masa pemuda sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya, lebih tinggi dan lebih besar. Ketika Auf bin Malik melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh melebihi yang lain sehingga sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan siapa orang itu, dijawab: Dia Umar bin Khattab.
Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Sejak mudanya ia memang sudah mahir dalam berbagai olahraga: olahraga gulat dan menunggang kuda. Ketika ia sudah masuk Islam ada seorang gembala ditanya orang: Kau tahu si kidal itu sudah masuk Islam?
Gembala itu menjawab: “Yang beradu gulat di Pasar Ukaz?” Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu memekik: “Oh, mungkin ia membawa kebaikan buat mereka, mungkin juga bencana”.
Penunggang kuda
Dari antara berbagai macam olahraga, naik kuda itulah yang paling disukainya sepanjang hidupnya. Selama dalam pemerintahannya pernah ia datang dengan memacu kudanya sehingga hampir menabrak orang. Ketika mereka melihatnya, mereka heran. “Apa yang membuat kalian heran?” tanyanya. “Aku merasa cukup segar lalu kukeluarkan seekor kuda dan kupacu,” jelasnya.
Dalam perang, juga dia memegang peranan penting, yang diwarisinya dari pihak saudara-saudara ibunya Banu Makhzum. Ketika dalam sakitnya yang terakhir Abu Bakar sudah berkata: "Tatkala aku mengirim Khalid bin Walid ke Syam aku bermaksud mengirim Umar bin Khattab ke Irak. Ketika itu sudah kubentangkan kedua tanganku demi di jalan Allah."
Di samping kemahirannya dalam olahraga berkuda, adu gulat dan berbagai olahraga lain, apresiasinya terhadap puisi juga tinggi dan suka mengutipnya. la suka mendengarkan para penyair membaca puisi di Ukaz dan di tempat-tempat lain. Banyak syair yang sudah dihafalnya dan membacanya kembali mana-mana yang disenanginya, di samping kemampuannya berbicara panjang mengenai penyair-penyair al-Hutai'ah, Hassan bin Sabit, az-Zibriqan' dan yang lain.
Lihat Juga :