Para Sufi Manfaatkan Musik, Tari, dan Puisi untuk Bangkitkan Cinta kepada Allah Ta'ala

Sabtu, 04 Juni 2022 - 19:56 WIB
Meskipun demikian, mereka haruslah dimaafkan, karena mempercayai hakikat suatu keadaan yang belum dialami secara pribadi adalah sama sulitnya dengan memahami kenikmatan menatap rumput hijau dan air mengalir bagi seorang buta, atau bagi seorang anak untuk mengerti kenikmatan melaksanakan pemerintahan.

"Karenanya seorang bijak, meskipun ia sendiri mungkin tidak mempunyai pengalaman tentang keadaan-keadaan tersebut, tak akan menyangkal hakikatnya. Sebab, kesalahan apa lagi yang lebih besar daripada orang yang menyangkal hakikat sesuatu hanya karena ia sendiri belum mengalaminya!" ujar Imam al-Ghazali.

Mengenai orang-orang ini, tertulis dalam Al-Qur'an: "Orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk akan berkata, 'Ini adalah kemunafikan yang nyata'."

Baca juga: Watak Tak Berdosa dari Musik dan Tarian Menurut Imam Ghazali

Puisi Erotis

Sedang mengenai puisi erotis yang dibaca pada pertemuan-pertemuan para sufi - yang banyak orang merasa keberatan terhadapnya - mesti kita ingat bahwa jika dalam puisi seperti ini disebut-sebut tentang pemisahan dari atau persekutuan dengan yang dicintai, maka para sufi - yang amat cinta pada Allah - menggunakan ungkapan semacam itu untuk menjelaskan pemisahan dan persekutuan dengan Dia.

Demikian pula, "jalan-jalan buntuk yang gelap" dipakai untuk menjelaskan kegelapan kekafiran; "kecerahan wajah" untuk cahaya keimanan; dan "mabuk" sebagai ekstase (kegairahan) sang sufi. Ambil sebagai misal, bait dari sebuah puisi berikut ini:

Mungkin sudah kuatur anggur

beribu takaran

Tapi, sampai 'kau habis mereguknya
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!