Ketika Amalan Orang Hidup Diperlihatkan kepada Keluarganya yang Wafat
Senin, 13 Juni 2022 - 23:18 WIB
Orang yang sudah wafat bukan berarti tidak mengerti apa-apa. Dalam satu hadis, mereka (ahli kubur) dapat mengetahui amal perbuatan keluarganya yang masih hidup. Foto ilustrasi/Ist
Bagi kita yang masih hidup hendaknya menyenangkan keluarga dan kerabat yang telah wafat dengan amal saleh. Sebab dalam satu riwayat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, sesungguhnya amal kalian akan diperlihatkan kepada kerabat dan keluarga kalian yang telah wafat, jika amal itu baik mereka pun bergembira.
Namun jika buruk, maka merekapun berdoa: "Ya Allah jangan wafatkan mereka sampai Engkau memberi hidayah kepada mereka seperti Engkau telah memberi hidayah kepada kami."
Hadis di atas sempat dinilai dha'if oleh Syaikh Albani, namun diralat kembali oleh beliau dengan menilainya sebagai Hadits shahih. (Lihat Ash-Shahihah 2758)
Dalam Islam, kematian disebut dengan ajal, maut atau wafat. Kematian berarti perpindahan ruh untuk memasuki kehidupan baru yang lebih agung.
Namun, orang yang meninggal bukan berarti tidak mengerti apa-apa. Mereka punya kehidupan sendiri, bahkan para Syuhada yang wafat di jalan Allah mendapat kesenangan dan nikmat dari Allah Ta'ala.
Dalam Kitab Al-Mawaizh Al-Usfuriyah, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury mengetengahkan Hadis panjang yang diriwayatkan dari Sufyan, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya amal-amal orang yang hidup akan diperlihatkan kepada teman-teman kerabat dan keluarga yang sudah mati. Apabila amal yang diperlihatkan adalah baik maka mereka akan memuji Allah dan mereka akan senang.
Apabila amal yang diperlihatkan adalah buruk, maka mereka yang telah mati berkata: "Ya Allah! Jangan Engkau cabut nyawa mereka (yang beramal) hingga Engkau memberi mereka hidayah terlebih dahulu!"
Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Mayit akan menerima rasa sakit di kuburannya sebagaimana ia menerima rasa sakit ketika masih hidup."
Kemudian beliau ditanya, "Apa yang bisa menyakiti mayit itu?"
Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya mayit tidaklah melakukan suatu dosa, tidak saling berselisih, tidak melawan siapapun, dan juga tidak menyakiti tetangga. Hanya saja sesungguhnya ketika kamu berselisih dengan orang lain maka barang tentu ia akan berbicara kotor tentangmu dan kedua orang tuamu. Kemudian kedua orangtuamu itu disakiti ketika dicelakai. Begitu juga mereka berdua akan senang ketika diperlakukan baik sesuai dengan hak mereka."
Namun jika buruk, maka merekapun berdoa: "Ya Allah jangan wafatkan mereka sampai Engkau memberi hidayah kepada mereka seperti Engkau telah memberi hidayah kepada kami."
Hadis di atas sempat dinilai dha'if oleh Syaikh Albani, namun diralat kembali oleh beliau dengan menilainya sebagai Hadits shahih. (Lihat Ash-Shahihah 2758)
Dalam Islam, kematian disebut dengan ajal, maut atau wafat. Kematian berarti perpindahan ruh untuk memasuki kehidupan baru yang lebih agung.
Namun, orang yang meninggal bukan berarti tidak mengerti apa-apa. Mereka punya kehidupan sendiri, bahkan para Syuhada yang wafat di jalan Allah mendapat kesenangan dan nikmat dari Allah Ta'ala.
Dalam Kitab Al-Mawaizh Al-Usfuriyah, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury mengetengahkan Hadis panjang yang diriwayatkan dari Sufyan, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya amal-amal orang yang hidup akan diperlihatkan kepada teman-teman kerabat dan keluarga yang sudah mati. Apabila amal yang diperlihatkan adalah baik maka mereka akan memuji Allah dan mereka akan senang.
Apabila amal yang diperlihatkan adalah buruk, maka mereka yang telah mati berkata: "Ya Allah! Jangan Engkau cabut nyawa mereka (yang beramal) hingga Engkau memberi mereka hidayah terlebih dahulu!"
Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Mayit akan menerima rasa sakit di kuburannya sebagaimana ia menerima rasa sakit ketika masih hidup."
Kemudian beliau ditanya, "Apa yang bisa menyakiti mayit itu?"
Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya mayit tidaklah melakukan suatu dosa, tidak saling berselisih, tidak melawan siapapun, dan juga tidak menyakiti tetangga. Hanya saja sesungguhnya ketika kamu berselisih dengan orang lain maka barang tentu ia akan berbicara kotor tentangmu dan kedua orang tuamu. Kemudian kedua orangtuamu itu disakiti ketika dicelakai. Begitu juga mereka berdua akan senang ketika diperlakukan baik sesuai dengan hak mereka."
Lihat Juga :