Kisah Sukses Islamisasi Jawa: Ini Dia 2 Figur yang Legendaris Itu

Sabtu, 06 Agustus 2022 - 20:14 WIB
Dari dakwah yang mereka mulai ini, Islam kemudian dianut oleh kalangan elite pribumi di kalangan keluarga Raja Majapahit, selanjutnya dianut secara luas oleh masyarakat umum pribumi.

Baca juga: Masjid Wawoangi, Titik Nol Penyebaran Islam di Buton

Kedua, Raja Majapahit (Bhre Kertabhumi yang memerintah tahun 1474-1478 M) terlibat perseteruan dengan penguasa Kediri, Dyah Ranawijaya Girindrawarddhana. Pada 1478, pasukan Kediri menyerang Kutaraja Majapahit dan meluluhlantakkannya.

Bhre Kertabhumi hilang dalam kerusuhan besar itu, dan hukum serta politik Majapahit dipenuhi oleh ketidakpastian. Orang-orang yang mengaku memiliki hubungan darah dengan raja-raja Majapahit mendirikan kerajaan-kerajaan kecil di daerah-daerah. Situasi politik kacau. Namun, kondisi ini merupakan berkah bagi dakwah Islam. Sebab, dakwah para wali itu dengan pimpinan Sunan Ampel menjadi tak terhalang. Masyarakat muslim di sepanjang pesisir utara Jawa tumbuh pesat.

Dengan memanfaatkan kemerosotan politik Majapahit, salah seorang santri dan menantu Sunan Ampel sekaligus putra mantan Raja Majapahit (Prabu Kertawijaya), Raden Patah, yang mulanya menjadi penguasa Demak Bintara, atas izin dari sang guru, mendeklarasikan kesultanan Islam pertama di tanah Jawa, yakni Kesultanan Demak Bintara.

Bersama-sama dengan anggota Wali Songo, ia membangun Masjid Agung Demak pada tahun 1479 M sebagai penanda bahwa kerajaan yang didirikannya merupakan kerajaan Islam yang berdaulat dan tidak lagi berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Lebih-lebih, kala itu Majapahit tidak memiliki raja dan tidak memiliki kutaraja. Dyah Ranawijaya Girindrawarddhana memindahkan Kutaraja Majapahit ke pedalaman Kediri. Ia terlalu sibuk dengan politik sehingga tidak mengurusi keberadaan Kesultanan Demak Bintara dan wilayah-wilayah pesisir utara Jawa yang dikuasai oleh para penguasa muslim.

Oleh karenanya, sepanjang kekuasaan Dyah Ranawijaya Girindrawarddhana sebagai raja baru Majapahit yang diteruskan oleh putranya, Dyah Wijayakusuma Girindrawarddhana, dakwah Islam di pesisir utara Jawa dengan pusatnya di Demak Bintara praktis tanpa hambatan besar.

Baca juga: Menerka Awal Mula Penyebaran Islam di Eropa Timur

Ketiga, raja-raja kecil di sepanjang pantai utara Jawa yang berbasis Hindu-Buddha merupakan kerabat dari Raden Patah, sama-sama keturunan Prabu Kertawijaya (Brawijaya V).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!